MAKALAH
ISU-ISU
YANG BERKEMBANG DALAM BIDANG PENDIDIKAN
MATA
KULIAH : Kajian IPS di SD
DOSEN : Drs. H. Suhardi Marli, M.Pd
DISUSUN OLEH :
SITI MAISYARAH
(F1082131027)

PENDIDIKAN
GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS
KEGURUAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
TANJUNGPURA
PONTIANAK
2O14
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana bagi para peserta
didik untuk menciptakan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta
didik dapat secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual
keagamaan, kepribadian,kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan
yang dipergunakan untuk dirinya maupun masyrakat disekelilingnya.
Pendidikan merupakan hal yang penting baik negara yang
sudah maju maupun negara-negara yang sedang berkembang. Bagi negara maju,
pendidikan digunakan sebagai upaya untuk terus meningkatkan kualitas hidup para
warga negaranya. Sedangkan bagi negara-negara yang sedang berkembang,
pendidikan dilaksanakan sebagai upaya untuk mengejar ketertinggalan mereka
dikancah internasional sehingga mereka dapat disejajarkan dengan negara-negara
maju.
Baik di negara maju maupun negara yang sedang
berkembang bukanlah tanpa masalah. Negara-negara seperti Inggris, Amerika
Serikat, Jepang, yang tergolong maju juga masih memiliki masalah mengenai
pendidikan yang disebabkan oleh beberapa faktor. Apalagi dengan negara yang
sedang berkembang. Dengan segala kekurangannya, negara yang sedang
berkembang juga memiliki masalah pendidikan yang semakin kompleks.
Melalui perbandingan pendidikan dapat diketahui apa
sebenarnya masalah-masalah yang membelit dunia pendidikan di negara-negara maju
dan juga negara-negara yang berkembang. Perbandingan itu tentunya akan menjadi
refleksi dari sistem pendidikan di Indonesia sendiri. Oleh karena itu, menarik
untuk dikaji, apa sebenarnya masalah-masalah pendidikan yang terjadi di
negara-negara tersebut.
Sedangkan Perkembangan pendidikan di Indonesia sendiri tidak luput dari adanya sistem kurikulum yang dibentuk
pemerintah Indonesia. Kurikulum kerap berubah setiap
ada pergantian Menteri Pendidikan, sehingga mutu pendidikan Indonesia hingga
kini belum memenuhi standar mutu yang jelas dan mantap.
B. Rumusan Masalah
1.
Bagaimana perkembangan pendidikan?
2.
Bagaimana Reformasi Pendidikan?
3.
Bagaimana Perkembangan
Dunia Pendidikan Negara Indonesia saat ini?
4.
Apa problem pendidikan yang terjadi di negara maju?
5.
Apa problem pendidikan yang terjadi di negara
berkembang?
6.
Apa saja peran serta masyarakat terhadap pendidikan?
C. Tujuan
1.
Mengetahui perkembangan pendidikan.
2.
Mengetahui Reformasi Pendidikan.
3.
Mengetahui Perkembangan
Dunia Pendidikan Negara Indonesia saat ini.
4.
Mengetahui problem pendidikan yang terjadi di negara
maju.
5.
Mengetahui problem pendidikan yang terjadi di negara
berkembang.
6.
Mengetahui saja peran serta masyarakat terhadap
pendidikan.
D. Manfaat
Manfaat
disusunnya makalah ini agar dapat memahami dan menambah wawasan bagi pembaca
terutama agar dapat mengetahui
perkembangan dan problem pendidikan yang terjadi di negara-negara maju dan
negara-negara berkembang terutama di negara Indonesia.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Perkembangan
Pendidikan
Bangkitnya
dunia pendidikan yang dirintis oleh Pahlawan kita Ki Hadjar Dewantara untuk
menentang penjajah pada massa lalu, sungguh sangat berarti apabila kita cermati
dengan saksama. Untuk itu tidak terlalu berlebihan apabila bangsa Indonesia
sebagai bangsa yang besar memperingati hari Pendidikan Nasional yang jatuh
setiap tanggal 2 Mei ini, sebagai bentuk refteksi penghargaan sekaligus bentuk
penghormatan yang tiada terhingga kepada para Perintis Kemerdekaan dan Pahlawan
Nasional. Di samping itu, betapa jiwa nasionalisme dan kejuangannya serta
wawasan kebangsaan yang dimiliki para pendahulu kita sangat besar, bahkan rela
berkorban demi nusa dan bangsa. Lantas bagaimana perkembangan sekarang? Sangat
ironis, memang. Banyak para pemuda kita yang tidak memiliki jiwa besar, bahkan
sangat mengkhawatirkan, janganjangan terhadap lagu kebangsaan kita pun sudah
tidak hafal, jangankan menghayati. Namun, kita sangat yakin dan semakin sadar,
bahwa hanya melalui dunia pendidikanlah bangsa kita akan menjadi maju, sehingga
dapat mengejar ketertinggalan dengan bangsa lain di dunia, sekaligus merupakan
barometer terhadap kualitas sumber daya manusia.
Krisis
moneter yang berlanjut dalam krisis ekonomi yang terjadi hingga puncaknya
ditandai dengan jatuhnya rezim Soeharto dari kekuasaannya pada Mei 1998 yang
lalu, telah mendorong reformasi bukan hanya dalam bidang politik dan ekonomi
saja, melainkan juga terimbas dalam dunia pendidikan juga. Reformasi dalam
bidang pendidikan, pada dasarnya merupakan reposisi dan bahkan rekonstruksi
pendidikan secara keseluruhan atau secara komprehensif integral. Reformasi,
reposisi dan rekonstruksi pendidikan jelas harus melibatkan penilaian kembali
secara kritis pencapaian dan masalah-masalah yang dihadapi dalam
penyelenggaraan pendidikan nasional.
Apabila
kita amati secara garis besar, pencapaian pendidikan nasional kita masih jauh
dan harapan, apalagi untuk mampu bersaing secara kompetitif dengan perkembangan
pendidikan pada tingkat global. Baik secara kuantitatif maupun kualitatif,
pendidikan nasional masih memiliki banyak kelemahan mendasar. Bahkan pendidikan
nasional, menurut banyak kalangan, bukan hanya belum berhasil meningkatkan
kecerdasan dan keterampilan anak didik, melainkan gagal dalam membentuk
karakter dan watak kepribadian (nation and character building), bahkan terjadi
adanya degradasi moral.
B. Reformasi Pendidikan
Kita
harus sadar, bahwa pembentukan karakter dan watak atau kepribadian ini sangat
penting, bahkan sangat mendesak dan mutlak adanya (tidak bisa ditawar-tawar
lagi). Hal ini cukup beralasan. Mengapa mutlak diperlukan? Karena adanya krisis
yang terus berkelanjutan melanda bangsa dan negara kita sampai saat ini belum
ada solusi secara jelas dan tegas, lebih banyak berupa wacana yang seolah-olah
bangsa ini diajak dalam dunia mimpi. Tentu masih ingat beberapa waktu yang lalu
Pemerintah mengeluarkan pandangan, bahwa bangsa kita akan makmur, sejahtera
nanti di tahun 2030. Suatu pemimpin bangsa yang besar untuk mengajak bangsa
atau rakyatnya menjadi “pemimpi” dalam menggapai kemakmuran yang
dicita-citakan.
Banyak
kalangan masyarakat yang mempunyai pandangan terhadap istilah “kelatahan
sosial” yang terjadi akhir-akhir ini. Hal ini memang terjadi dengan berbagai
peristiwa, seperti tuntutan demokrasi yang diartikan sebagai kebebasan tanpa
aturan, tuntutan otonomi sebagai kemandirian tanpa kerangka acuan yang
mempersatukan seluruh komponen bangsa, hak asasi manusia yang terkadang mendahulukan
hak daripada kewajiban. Pada akhirnya berkembang ke arah berlakunya hukum rimba
yang memicu kesukubangsaan (ethnicity). Kerancuan ini menyebabkan orang
frustasi dan cenderung meluapkan perasaan tanpa kendali dalam bentuk “amuk
massa atau amuk sosial”.
Berhadapan
dengan berbagai masalah dan tantangan, pendidikan nasional pada saat yang sama
(masih) tetap memikul peran multidimensi. Berbeda dengan peran pendidikan pada
negara-negara maju, yang pada dasarnya lebih terbatas pada transfer ilmu
pengetahuan, peranan pendidikan nasional di Indonesia memikul beban lebih berat
Pendidikan berperan bukan hanya merupakan sarana transfer ilmu pengetahuan
saja, tetap lebih luas lagi sebagai pembudayaan (enkulturisasi) yang tentu saja
hal terpenting dan pembudayaan itu adalah pembentukan karakter dan watak
(nation and character building), yang pada gilirannya sangat krusial bagi
notion building atau dalam bahasa lebih populer menuju rekonstruksi negara dan
bangsa yang lebih maju dan beradab.
Oleh
karena itu, reformasi pendidikan sangat mutlak diperlukan untuk membangun
karakter atau watak suatu bangsa, bahkan merupakan kebutuhan mendesak.
Reformasi kehidupan nasional secara singkat, pada intinya bertujuan untuk
membangun Indonesia yang lebih genuinely dan authentically demokratis dan
berkeadaban, sehingga betul-betul menjadi Indonesia baru yang madani, yang
bersatu padu (integrated). Di samping itu, peran pendidikan nasional dengan
berbagai jenjang dan jalurnya merupakan sarana paling strategis untuk mengasuh,
membesarkan dan mengembangkan warga negara yang demokratis dan memiliki
keadaban (civility) kemampuan, keterampilan, etos dan motivasi serta
berpartisipasi aktif, merupakan ciri dan karakter paling pokok dari suatu
masyarakat madani Indonesia. Jangan sampai yang terjadi malah kekerasan yang
meregenerasi seperti halnya yang terjadi di IPDN yang menjadi sorotan
akhir-akhir ini (Kompas 16/4), Kekerasan fisik yang mengorbankan nyawa dan
harta benda tersebut, sangat jelas terkait pula dengan masih bertahannya
“kekerasan struktural” (structural violence) pada tingkat tertentu. Akibatnya,
perdamaian hati secara hakiki tidak atau belum berhasil diwujudkan.
Oleh : Drs. Bambang
Nurokhim
C. Perkembangan
Dunia Pendidikan Negara Indonesia saat ini
Perkembangan pendidikan di Indonesia
tidak luput dari adanya sistem kurikulum yang dibentuk pemerintah
Indonesia.kurikulum kerap berubah setiap ada pergantian Menteri Pendidikan,
sehingga mutu pendidikan Indonesia hingga kini belum memenuhi standar mutu yang
jelas dan mantap. Dalam perjalanan sejarah sejak tahun 1945, kurikulum
pendidikan nasional telah mengalami perubahan, yaitu pada tahun 1947, 1952,
1964, 1968, 1975, 1984, 1994, 2004, dan 2006.Perubahan tersebut merupakan
konsekuensi logis dari terjadinya perubahan sistem politik, sosial budaya,
ekonomi, dan iptek dalam masyarakat berbangsa dan bernegara.Sebab, kurikulum
sebagai seperangkat rencana pendidikan perlu dikembangkan secara dinamis sesuai
dengan tuntutan dan perubahan yang terjadi di masyarakat. Semua kurikulum
nasional dirancang berdasarkan landasan yang sama, yaitu Pancasila dan UUD
1945, perbedaanya pada penekanan pokok dari tujuan pendidikan serta pendekatan
dalam merealisasikannya.
1.
Rencana Pelajaran 1947
Awal kurikulum terbentuk pada
tahun 1947, yang diberi nama Rencana Pembelajaran 1947. Kurikulum ini pada saat
itu meneruskan kurikulum yang sudah digunakan oleh Belanda karena pada saat itu
masih dalam proses perjuangan merebut kemerdekaan. Yang menjadi ciri utam
kurikulum ini adalah lebih menekankan pada pembentukan karakter manusia yang
berdaulat dan sejajar dengan bangsa lain.Kurikulum pertama yang lahir pada masa
kemerdekaan memakai istilah leer plan.Dalam bahasa Belanda, artinya rencana
pelajaran, lebih popular ketimbang curriculum (bahasa Inggris). Perubahan kisi-kisi
pendidikan lebih bersifat politis: dari orientasi pendidikan Belanda ke
kepentingan nasional. Asas pendidikan ditetapkan Pancasila.
Rencana Pelajaran 1947 baru
dilaksanakan sekolah-sekolah pada 1950.Sejumlah kalangan menyebut sejarah
perkembangan kurikulum diawali dari Kurikulum 1950. Bentuknya memuat dua hal
pokok: daftar mata pelajaran dan jam pengajarannya, plus garis-garis besar
pengajaran. Rencana Pelajaran 1947 mengurangi pendidikan pikiran.Yang
diutamakan pendidikan watak, kesadaran bernegara dan bermasyarakat, materi
pelajaran dihubungkan dengan kejadian sehari-hari, perhatian terhadap kesenian
dan pendidikan jasmani.Setelah rencana pembelajaran 1947, pada tahun 1952
kurikulum Indonesia mengalami penyempurnaan. Dengan berganti nama menjadi Rentjana
Pelajaran Terurai 1952.Yang menjadi ciri dalam kurikulum ini adalah setiap
pelajaran harus memperhatikan isi pelajaran yang dihubungkan dengan kehidupan
sehari-hari.
2.
Pelajaran
Terurai 1952
Kurikulum ini lebih merinci
setiap mata pelajaran yang disebut Rencana Pelajaran Terurai 1952.“Silabus mata
pelajarannya jelas sekali.seorang guru mengajar satu mata pelajaran,” kata
Djauzak Ahmad, Direktur Pendidikan Dasar Depdiknas periode 1991-1995. Ketika
itu, di usia 16 tahun Djauzak adalah guru SD Tambelan dan Tanjung Pinang, Riau.
Di penghujung era Presiden
Soekarno, muncul Rencana Pendidikan 1964 atau Kurikulum 1964.Fokusnya pada
pengembangan daya cipta, rasa, karsa, karya, dan moral (Pancawardhana). Mata
pelajaran diklasifikasikan dalam lima kelompok bidang studi: moral, kecerdasan,
emosional/artistik, keprigelan (keterampilan), dan jasmaniah. Pendidikan dasar
lebih menekankan pada pengetahuan dan kegiatan fungsional prak tis.Usai tahun
1952, menjelang tahun 1964 pemerintah kembali menyempurnakan sistem kurikulum
pendidikan di indonesia. Kali ini diberi nama dengan Rentjana Pendidikan 1964.
Yang menjadi ciri dari kurikulum ini pembelajaran dipusatkan pada program
pancawardhana yaitu pengembangan moral, kecerdasan, emosional, kerigelan dan
jasmani.
3.
Kurikulum 1968
Usai tahun 1952, menjelang
tahun 1964, pemerintah kembali menyempurnakan sistem kurikulum di Indonesia.
Kali ini diberi nama Rentjana Pendidikan 1964. Pokok-pokok pikiran kurikulum
1964 yang menjadi ciri dari kurikulum ini adalah: bahwa pemerintah mempunyai
keinginan agar rakyat mendapat pengetahuan akademik untuk pembekalan pada
jenjang SD, sehingga pembelajaran dipusatkan pada program Pancawardhana
(Hamalik, 2004), yaitu pengembangan moral, kecerdasan, emosional/artistik,
keprigelan, dan jasmani.
Kurikulum 1968 merupakan
pembaharuan dari Kurikulum 1964, yaitu dilakukannya perubahan struktur
kurikulum pendidikan dari Pancawardhana menjadi pembinaan jiwa pancasila,
pengetahuan dasar, dan kecakapan khusus.Kurikulum 1968 merupakan perwujudan
dari perubahan orientasi pada pelaksanaan UUD 1945 secara murni dan konsekuen.
Dari segi tujuan pendidikan,
Kurikulum 1968 bertujuan bahwa pendidikan ditekankan pada upaya untuk membentuk
manusia Pancasila sejati, kuat, dan sehat jasmani, mempertinggi kecerdasan dan keterampilan
jasmani, moral, budi pekerti, dan keyakinan beragama. Isi pendidikan diarahkan
pada kegiatan mempertinggi kecerdasan dan keterampilan, serta mengembangkan
fisik yang sehat dan kuat.
Kelahiran Kurikulum 1968
bersifat politis: mengganti Rencana Pendidikan 1964 yang dicitrakan sebagai
produk Orde Lama. Tujuannya pada pembentukan manusia Pancasila sejati.
Kurikulum 1968 menekankan pendekatan organisasi materi pelajaran: kelompok
pembinaan Pancasila, pengetahuan dasar, dan kecakapan khusus. Jumlah pelajarannya
9.
Djauzak menyebut Kurikulum
1968 sebagai kurikulum bulat.“Hanya memuat mata pelajaran pokok-pokok saja,”
katanya.Muatan materi pelajaran bersifat teoritis, tak mengaitkan dengan
permasalahan faktual di lapangan. Titik beratnya pada materi apa saja yang
tepat diberikan kepada siswa di setiap jenjang pendidikan.
4.
Kurikulum 1975
Kurikulum 1975 sebagai
pengganti kurikulum 1968 menekankan pada tujuan,Kurikulum 1975 menekankan pada
tujuan, agar pendidikan lebih efisien dan efektif. “Yang melatarbelakangi
adalah pengaruh konsep di bidang manejemen, yaitu MBO (management by objective)
yang terkenal saat itu,” kata Drs. Mudjito, Ak, MSi, Direktur Pembinaan TK dan
SD Depdiknas.
Metode, materi, dan tujuan
pengajaran dirinci dalam Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional
(PPSI).Zaman ini dikenal istilah “satuan pelajaran”, yaitu rencana pelajaran
setiap satuan bahasan. Setiap satuan pelajaran dirinci lagi: petunjuk umum,
tujuan instruksional khusus (TIK), materi pelajaran, alat pelajaran, kegiatan
belajar-mengajar, dan evaluasi. Kurikulum 1975 banyak dikritik. Guru sibuk
menulis rincian apa yang akan dicapai dari setiap kegiatan pembelajaran.
5.
Kurikulum 1984
Kurikulum 1984 mengusung
process skill approach. Meski mengutamakan pendekatan proses, tapi faktor tujuan
tetap penting. Kurikulum ini juga sering disebut “Kurikulum 1975 yang
disempurnakan”.Posisi siswa ditempatkan sebagai subjek belajar.Dari mengamati
sesuatu, mengelompokkan, mendiskusikan, hingga melaporkan.Model ini disebut
Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) atau Student Active Leaming (SAL).
Tokoh penting dibalik lahirnya
Kurikulum 1984 adalah Profesor Dr. Conny R. Semiawan, Kepala Pusat Kurikulum
Depdiknas periode 1980-1986 yang juga Rektor IKIP Jakarta — sekarang
Universitas Negeri Jakarta — periode 1984-1992.Konsep CBSA yang elok secara
teoritis dan bagus hasilnya di sekolah-sekolah yang diujicobakan, mengalami
banyak deviasi dan reduksi saat diterapkan secara nasional.Sayangnya, banyak
sekolah kurang mampu menafsirkan CBSA.Yang terlihat adalah suasana gaduh di
ruang kelas lantaran siswa berdiskusi, di sana-sini ada tempelan gambar, dan
yang menyolok guru tak lagi mengajar model berceramah.Penolakan CBSA
bermunculan.
6.
Kurikulum 1994 dan Suplemen Kurikulum 1999
Kurikulum 1994 bergulir lebih
pada upaya memadukan kurikulum-kurikulum sebelumnya.“Jiwanya ingin
mengkombinasikan antara Kurikulum 1975 dan Kurikulum 1984, antara pendekatan
proses,” kata Mudjito menjelaskan.
Sayang, perpaduan tujuan dan
proses belum berhasil. Kritik bertebaran, lantaran beban belajar siswa dinilai
terlalu berat. Dari muatan nasional hingga
lokal.Materi muatan lokal disesuaikan dengan kebutuhan daerah masing-masing,
misalnya bahasa daerah kesenian, keterampilan daerah, dan lain-lain.Berbagai
kepentingan kelompok-kelompok masyarakat juga mendesakkan agar isu-isu tertentu
masuk dalam kurikulum.
Walhasil,menjelma menjadi
kurikulum super padat.Kejatuhan rezim Soeharto pada 1998,diikuti kehadiran
suplemen Kurikulum 1999. Tapi perubahannya lebih pada
menambah sejumlah materi. Kurikulum 1994 dibuat sebagai penyempurnaan kurikulum
1984 dan dilaksanakan sesuai dengan undang-undang no. 2 tahun 1989 tentang
Sistem Pendidikan Nasional. Hal ini berdampak pada sistem pembagian waktu
pelajaran, yaitu dengan mengubah dari sistem semester ke sistem caturwulan.Dengan
sistem caturwulan yang pembagiannya dalam satu tahun menjadi tiga tahap
diharapkan dapat memberi kesempatan bagi siswa untuk dapat menerima materi
pelajaran cukup banyak.
Terdapat ciri-ciri yang
menonjol dari pemberlakuan kurikulum 1994, di antaranya sebagai berikut:
a.
Pembagian tahapan pelajaran di sekolah dengan sistem
catur wulan.
b.
Pembelajaran di sekolah lebih menekankan materi
pelajaran yang cukup padat (berorientasi kepada materi pelajaran/isi).
c.
Kurikulum 1994 bersifat populis, yaitu yang
memberlakukan satu sistem kurikulum untuk semua siswa di seluruh Indonesia.
Kurikulum ini bersifat kurikulum inti sehingga daerah yang khusus dapat
mengembangkan pengajaran sendiri disesuaikan dengan lingkungan dan kebutuhan
masyarakat sekitar.
d.
Dalam pelaksanaan kegiatan, guru hendaknya memilih dan
menggunakan strategi yang melibatkan siswa aktif dalam belajar, baik secara
mental, fisik, dan sosial. Dalam mengaktifkan siswa guru dapat memberikan
bentuk soal yang mengarah kepada jawaban konvergen, divergen (terbuka,
dimungkinkan lebih dari satu jawaban) dan penyelidikan.
(1.) Dalam pengajaran suatu mata
pelajaran hendaknya disesuaikan dengan kekhasan konsep/pokok bahasan dan
perkembangan berpikir siswa, sehingga diharapkan akan terdapat keserasian
antara pengajaran yang menekankan pada pemahaman konsep dan pengajaran yang
menekankan keterampilan menyelesaikan soal dan pemecahan masalah.
(2.) Pengajaran dari hal yang
konkrit ke ha yang abstrak, dari hal yang mudah ke hal yang sulit dan dari hal
yang sederhana ke hal yang kompleks.
(3.) Pengulangan-pengulangan materi
yang dianggap sulit perlu dilakukan untuk pemantapan pemahaman.
(4.) Selama dilaksanakannya
kurikulum 1994 muncul beberapa permasalahan, terutama sebagai akibat dari
kecenderungan kepada pendekatan penguasaan materi (content oriented), di
antaranya sebagai berikut :
·
Beban belajar siswa terlalu berat karena banyaknya
mata pelajaran dan banyaknya materi/ substansi setiap mata pelajaran.
·
Materi pelajaran dianggap terlalu sukar karena kurang
relevan dengan tingkat perkembangan berpikir siswa, dan kurang bermakna karena
kurang terkait dengan aplikasi kehidupan sehari-hari.
Permasalahan di atas saat
berlangsungnya pelaksanaan kurikulum 1994.Hal ini mendorong para pembuat
kebijakan untuk menyempurnakan kurikulum tersebut.Salah satu upaya
penyempurnaan itu diberlakukannya suplemen kurikulum 1994. Penyempurnaan
tersebut dilakukan dengan tetap mempertimbangkan prinsip penyempurnaan
kurikulum, yaitu:
(a.) Penyempurnaan kurikulum secara
terus menerus sebagai upaya menyesuaikan kurikulum dengan perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi, serta tuntutan kebutuhan masyarakat.
(b.) Penyempurnaan kurikulum
dilakukan untuk mendapatkan proporsi yang tepat antara tujuan yang ingin
dicapai dengan beban belajar, potensi siswa, dan keadaan lingkungan serta
sarana pendukungnya.
(c.) Penyempurnaan kurikulum
dilakukan untuk memperoleh kebenaran substansi materi pelajaran dan kesesuaian
dengan tingkat perkembangan siswa.
(d.) Penyempurnaan kurikulum
mempertimbangkan brbagai aspek terkait, seperti tujuan materi pembelajaran,
evaluasi dan sarana-prasarana termasuk buku pelajaran.
(e.) Penyempurnaan kurikulum tidak
mempersulit guru dalam mengimplementasikannya dan tetap dapat menggunakan buku
pelajaran dan sarana prasarana pendidikan lainnya yang tersedia di sekolah.
(f.) Penyempurnaan kurikulum 1994
di pendidikan dasar dan menengah dilaksanakan bertahap, yaitu tahap
penyempurnaan jangka pendek dan penyempurnaan jangka panjang.
Implementasi pendidikan di
sekolah mengacu pada seperangkat kurikulum.Salah satu bentuk invovasi yang
dikembangkan pemerintah guna meningkatkan mutu pendidikan adalah melakukan
inovasi di bidang kurikulum.Kurikulum 1994 disempurnakan lagi sebagai respon
terhadap perubahan struktural dalam pemerintahan dari sentralistik menjadi
disentralistik sebagai konsekuensi logis dilaksanakannya UU No. 22 dan 25
tentang otonomi daerah.
Pada era ini kurikulum yang
dikembangkan diberi nama Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). KBK adalah
seperangkat rencana dan pengaturan tentang kompetensi dan hasil belajar yang
harus dicapai siswa, penilaian, kegiatan belajar mengajar, dan pemberdayaan
sumber daya pendidikan dalam pengembangan kurikulum sekolah (Depdiknas,
2002).Kurikulum ini menitik beratkan pada pengembangan kemampuan melakukan
(kompetensi) tugas-tugas dengan standar performasi tertentu, sehingga hasilnya
dapat dirasakan oleh peserta didik, berupa penguasaan terhadap serangkat
kompetensi tertentu.KBK diarahkan untuk mengembangkan pengetahuan, pemahaman,
kemampuan, nilai, sikap dan minat peserta didik, agar dapat melakukan sesuatu
dalam bentuk kemahiran, ketepatan dan keberhasilan dengan penuh tanggungjawab. Adapun karakteristik KBK menurut Depdiknas (2002)
adalah sebagai berikut:
(1.) Menekankan pada ketercapaian
kompetensi siswa baik secara individual maupu klasikal.
(2.) Berorientasi pada hasil
belajar (learning outcomes) dan keberagaman.
(3.) Penyampaian dalam pembelajaran
menggunakan pendekatan dan metode yang bervariasi.
(4.) Sumber belajar bukan hanya
guru, tetapi juga sumber belajar lainnya yang memenuhi unsur edukatif.
(5.) Penilaian menekankan pada
proses dan hasil belajar dalam upaya penguasaan atau pencapaian suatu
kompetensi.
7.
Kurikulum 2004
Bahasa kerennya Kurikulum
Berbasis Kompetensi (KBK).Setiap pelajaran diurai berdasar kompetensi apakah
yang mesti dicapai siswa.Sayangnya, kerancuan muncul bila dikaitkan dengan alat
ukur kompetensi siswa, yakni ujian.Ujian akhir sekolah maupun nasional masih
berupa soal pilihan ganda. Bila target kompetensi yang ingin dicapai,
evaluasinya tentu lebih banyak pada praktik atau soal uraian yang mampu
mengukur seberapa besar pemahaman dan kompetensi siswa.
Meski baru diujicobakan, toh
di sejumlah sekolah kota-kota di Pulau Jawa, dan kota besar di luar Pulau Jawa
telah menerapkan KBK. Hasilnya tak memuaskan. Guru-guru pun tak paham betul apa
sebenarnya kompetensi yang diinginkan pembuat kurikulum.
Kurikulum ini dikatakan
sebagai perbaikan dari KBK yang diberi nama Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan
(KTSP). KTSP ini merupakan bentuk implementasi dari UU No. 20 tahun 2003
tentang sistem pendidikan nasional yang dijabarkan ke dalam sejumlah peraturan
antara lain Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang standar nasional
pendidikan. Peraturan Pemerintah ini memberikan arahan tentang perlunya disusun
dan dilaksanakan delapan standar nasional pendidikan, yaitu:
a. standar isi,
b. standar proses,
c. standar kompetensi lulusan,
d. standar pendidik dan tenaga
kependidikan,
e. standar sarana dan prasarana,
f. standar pengelolaan, standar
pembiayaan, dan
g. standar penilaian pendidikan.
Kurikulum dipahami sebagai seperangkat
rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara
yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk
mencapai tujuan pendidikan tertentu, maka dengan terbitnya Peraturan Pemerintah
Nomor 19 Tahun 2005, pemerintah telah menggiring pelaku pendidikan untuk
mengimplementasikan kurikulum dalam bentuk kurikulum tingkat satuan pendidikan,
yaitu kurikulum operasional yang disusun oleh dan dilaksanakan di setiap satuan
pendidikan.
Secara substansial, pemberlakuan
(baca: penamaan) Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) lebih kepada
mengimplementasikan regulasi yang ada, yaitu PP No. 19/2005. Akan tetapi,
esensi isi dan arah pengembangan pembelajarantetap masih bercirikan tercapainya
paket-paket kompetensi (dan bukan pada tuntas tidaknya sebuah subject matter),
yaitu:
·
Menekankan pada ketercapaian kompetensi siswa baik
secara individual maupun klasikal.
·
Berorientasi pada hasil belajar (learning outcomes)
dan keberagaman.
·
Penyampaian dalam pembelajaran menggunakan pendekatan
dan metode yang bervariasi.
·
Sumber belajar bukan hanya guru, tetapi juga sumber
belajar lainnya yang memenuhi unsur edukatif.
·
Penilaian menekankan pada proses dan hasil belajar
dalam upaya penguasaan atau pencapaian suatu kompetensi.
Terdapat perbedaan mendasar
dibandingkan dengan KBK tahun 2004 dengan KBK tahun 2006 (versi KTSP), bahwa
sekolah diberi kewenangan penuh dalam menyusun rencana pendidikannya dengan
mengacu pada standar-standar yang ditetapkan, mulai dari tujuan, visi-misi,
struktur dan muatan kurikulum, beban belajar, kalender pendidikan hingga
pengembangan silabusnya.
8.
KTSP 2006
Awal 2006 ujicoba KBK
dihentikan. Muncullah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Pelajaran KTSP masih
tersendat. Tinjauan dari segi isi dan proses pencapaian target kompetensi
pelajaran oleh siswa hingga teknis evaluasi tidaklah banyak perbedaan dengan
Kurikulum 2004. Perbedaan yang paling menonjol adalah guru lebih diberikan
kebebasan untuk merencanakan pembelajaran sesuai dengan lingkungan dan kondisi
siswa serta kondisi sekolah berada.
Hal ini disebabkan karangka
dasar (KD), standar kompetensi lulusan (SKL), standar kompetensi dan kompetensi
dasar (SKKD) setiap mata pelajaran untuk setiap satuan pendidikan telah
ditetapkan oleh Departemen Pendidikan Nasional.Jadi pengambangan perangkat
pembelajaran, seperti silabus dan sistem penilaian merupakan kewenangan satuan
pendidikan (sekolah) dibawah koordinasi dan supervisi pemerintah
Kabupaten/Kota. (TIAR)
Kurikulum yang terbaru adalah
kurikulum 2006 KTSP yang merupakan perkembangan dari kurikulum 2004 KBK.
Kurikulum 2006 yang digunakan
pada saat ini merupakan kurikulum yang memberikan otonomi kepada sekolah untuk
menyelenggarakan pendidikan yang puncaknya tugas itu akan diemban oleh masing
masing pengampu mata pelajaran yaitu guru. Sehingga seorang guru disini menurut
Okvina (2009) benar-benar digerakkan menjadi manusia yang professional yang
menuntuk kereatifitasan seorang guru.Kurikulum yang kita pakai sekarang ini
masih banyak kekurangan di samping kelebihan yang ada. Kekurangannya tidak lain
adalah :
a. kurangnya sumber manusia yang
potensial dalam menjabarkan KTSP dengan kata lain masih rendahnya kualitas
seorang guru, karena dalam KTSP seorang guru dituntut untuk lebihh kreatif dalam
menjalankan pendidikan.
b. kurangnya sarana dan prasarana
yang dimillki oleh sekolah.
9.
Kurikulum 2013
Kurikulum
2013 atau Pendidikan Berbasis Karakter adalah kurikulum baru
yang dicetuskan oleh Kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan RI untuk menggantikan Kurikulum Tingkat
Satuan Pendidikan. Kurikulum 2013 merupakan sebuah
kurikulum yang mengutamakan pemahaman, skill, dan pendidikan
berkarakter, siswa dituntut untuk paham atas materi, aktif dalam berdiskusi dan
presentasi serta memiliki sopan santun disiplin yang tinggi.
Kurikulum
ini menggantikan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan yang diterapkan sejak 2006
lalu. Dalam Kurikulum 2013 mata pelajaran wajib diikuti oleh seluruh peserta
didik di satu satuan pendidikan pada setiap satuan atau jenjang pendidikan.Mata
pelajaran pilihan yang diikuti oleh peserta didik dipilih sesuai dengan pilihan
mereka.Kedua kelompok mata pelajaran tersebut (wajib dan pilihan) terutama
dikembangkan dalam struktur kurikulum pendidikan menengah (SMA dan SMK)
sementara itu mengingat usia dan perkembangan psikologis peserta didik usia 7 –
15 tahun maka mata pelajaran pilihan belum diberikan untuk peserta didik SD dan
SMP. Ada beberapa aspek penilaian dalam kurikulum 2013 yakni:
a. Aspek Pengetahuan
Pengetahuan dalam kurikulum 2013 sama seperti
kurikulum-kurikulum sebelumnya, yaitu penekanan pada tingkat pemahaman siswa
dalam pelajaran. Nilai dari aspek pengetahuan bisa didapat dari Ulangan Harian,
Ujian Tengah/Akhir Semester, dan Ujian Kenaikan Kelas. Pada kurikulum 2013,
Pengetahuan bukan aspek utama seperti pada kurikulum-kurikulum sebelumnya.
b.
Aspek Keterampilan
Keterampilan
merupakan aspek baru dalam kurikulum di Indonesia. Keterampilan merupakan
penekanan pada skill atau kemampuan. misalnya adalah kemampuan
untuk mengemukakan pendapat, berdiksusi/bermusyawarah, membuat laporan, serta
berpresentasi. Aspek Keterampilan merupakan salah satu aspek penting karena
hanya dengan pengetahuan, siswa tidak dapat menyalurkan pengetahuan tersebut
sehingga hanya menjadi teori semata.
c. Aspek
Sikap
Aspek sikap
merupakan aspek tersulit untuk dinilai. Sikap meliputi sopan santun, adab dalam
belajar, absensi, sosial, dan agama. Kesulitan penilaian dalam aspek ini karena
guru tidak setiap saat mengawasi siswa-siswinya. Sehingga penilaian tidak
begitu efektif.
D. Problem
Pendidikan di Negara Maju
Pendidikan di negara-negara maju bukannya tidak
mengalami masalah. Seperti halnya di negara-negara berkembang ada beberapa
masalah yang dihadapi oleh pendidikan di negara-negara maju. Sebagai contoh
negara-negara maju yang mengalami beberapa masalah di bidang pendidikan antara
lain Inggris, Jepang, Amerika Serikat dan Turki.
1.
Inggris
Ada
beberapa masalah pendidikan di Inggris yang cukup mendapatkan perhatian dari
kalangan pemerhati pendidikan di sana. Persatuan Guru Nasional Inggris dan
Wales mengemukakan ada beberapa masalah kependidikan yang dihadapi oleh
pendidikan Inggris. Masalah-masalah tersebut antara lain:
a.
The relationship between education and employment and preparation for
the transition from school to work.
Masyarakat Inggris berpandangan bahwa tugas pokok
sekolah adalah membantu siswa memecahkan masalah. Termasuk di dalamnya yaitu
membantu siswa memecahkan masalah transisi dari sekolah menuju dunia kerja.
Masyarakat Inggris menghendaki adanya fungsi nyata dari lulusan suatu sekolah
dalam arti bagaimana lulusan tersebut dapat didayagunakan dalam dunia kerja.
Mereka menginginkan adanya hubungan antara lingkungan pendidikan dengan dunia
kerja. Oleh karenanya, sekolah diharapkan dapat menjalin kerjasama dengan
perusahaan-perusahaan, holding company dan sebagainya.
b.
A commitment to life-longeducation
Pendidikan di Inggris tengah berupaya agar prinsip
pendidikan sepanjang hayat (long life education) dapat terlaksana.
Upaya ini dilakukan agar mereka yang sudah berusia lanjut juga terus
mendapatkan pendidikan. Hal ini dikarenakan ada sebagian orang-orang lanjut
usia yang pada masa kanak-kanaknya kurang mengenyam pendidikan. Dengan adanya
usaha ini diharapkan adanya pemerataan pendidikan baik muda maupun tua sesuai
dengan prinsip long life education.
c.
The expansion of educational facilities
Salah satu resiko dari pengembangan sarana pendidikan
adalah biaya yang dikeluarkan akan semakin banyak. Apalagi di era arus
informasi dan teknologi yang semakin hari semakin berkembang dengan cepat
sehingga membutuhkan sarana pendidikan yang dapat disesuaikan dengan
perkembangan zaman. Hal ini agar pendidikan Inggris tidak ketinggalan zaman.
Dampak dari pengembangan sarana pendidikan
berteknologi tinggi, akan mengurangi tenaga kerja guru itu sendiri.
Akibatnya banyak guru-guru yang akan menganggur. Namun di lain pihak
apabila fasilitas tidak terpenuhi atau kurang maka akan menimbulkan hambataan
belajar sehingga kurang optimalnya proses belajar siswa. Hal ini juga akan
berdampak pada ekonomi Inggris di masa mendatang.
d. Teacher education for
tomorrow
Pendidikan guru juga merupakan masalah yang harus
diperhatikan. Sistem dan metode pengajaran hendaknya dapat memenuhi permintaan
masyarakat yang menginginkan hasil yang bagus. Untuk menangani masalah
tersebut, pendidikan profesi keguruan di Inggris dipersiapkan secara matang
selama 4 tahun. Melalui pendidikan tersebut, guru diharapkan dapat menjelaskan
tentang kenyataan hidup dalam masyarakat plural yang multirasial dan
multikultural.
2. Jepang
Jepang merupakan salah satu negara di Asia yang
digolongkan sebagai negara maju. Akan tetapi, sebagai negara maju Jepang juga mengalami
beberapa masalah mengenai kependidikan. Adapun permasalah kependidikan yang
dialami Jepang adalah sebagai berikut:
a.
Hubungan antara
program kependidikan di lembaga- lembaga kependidikan dengan dunia kerja.
Masalah ini justru datang dari para lulusan perguruan
tinggi. Para lulusan perguruan tinggi cenderung memilih untuk kerja di lembaga
pemerintahan. Hal ini berbanding terbalik dengan usaha pemerintah yang ingin
melakukan pengurangan pegawai negeri. Dengan kondisi yang demikian, maka akan
terjadi banyak pengangguran intelektual dari lulusan universitas.
Pendidikann Jepang menitikberatkan pada ahli
teknologi tinggi demi memenuhi kebutuhan masyarakat modern, akibatnya terjadi
dehumanisasi dengan banyaknya tuntutan dari para pencari kerja, terutama dari
kalangan non teknis. Salah satu upaya penanganan tersebut maka perlu adanya
sekolah atau pendidikan yang dapat membangun pertumbuhan tenaga kerja
intelektual yang terampil dan professional di bidang usaha swasta.
b. Persiapan menghadapi masa peralihan dari masa sekolah
ke masa kerja serta masa hidup bermasyarakat.
Sesuai dengan keadaan pada poin a, maka perlu adanya
persiapan peralihan dari dunia pendidikan menuju dunia kerja serta hidup di
masyarakat. Di Jepang, masa peralihan terjadi pada pendidikan sekolah menengah
atas dan perguruan tinggi. Bagi mereka lulusan sekolah kejuruan tidak begitu
menimbulkan permasalahan, karena mereka telah dibekali keahlian sesuai dengan
jurusan masing-masing sehingga keterampilan mereka dapat digunakan dalam dunia
kerja. Sedangkan bagi lulusan sekolah umum dan perguruan tinggi hendaknya ada
suatu strategi khusus guna menyiapkan lulusan tersebut agar dapat memiliki daya
guna di masyarakat.
c. Pendidikan seumur hidup
Pemberian kesempatan belajar di lembaga non-formal
perlu diperhatikan agar konsep pendidikan seumur hidup dapat terlaksana. Aspek
lainnya yaitu kerjasama antara orang tua, guru dan siswa dalam proses
pendidikan. Sistem ini diharapkan dapat memantau perkembangan siswa baik itu di
sekolah maupun di rumah.
d. Perluasan fasilitas dan pelayanan kependidikan dalam
menghadapi bertambahnya hambatan ekonomi.
Masalah ini dikarenakan di Jepang juga terjadi
pemusatan pemukiman di kota atau urbanisasi. Dampak dari urbanisasi tersebut
dalam kependidikan adalah kurang tersedianya sarana gedung sekolah, karyawan
administratif kependidikan serta penanganan siswa yang tidak tertampung di
sekolah. Dengan begitu maka biaya yang harus dikeluarkan pemerintah juga
semakin besar.
Adapun instansi yang menangani pembiayaan pendidikan
adalah pemerintah pusat, pemerintah daerah serta badan-badan lain. Dari ketiga
instansi tersebut pemerintah daerah adalah instansi yang paling besar dalam
menanggung pembiayaan pendidikan.
e. Penyediaan tenaga guru yang lebih bermutu untuk
mempersiapkan anak didik menghadapi masyarakat masa depan yang semakin kompleks
Pendidikan Jepang mengusahakan agar para siswa yang
cerdas dan pandai tertarik pada profesi guru. Tugas pokok guru di Jepang adalah
membentuk karakter para siswa. Beberapa lembaga pendidikan guru
perlu ditingkatkan mutu dan arah pengembangannya pada pendidikan karakter.
f. Pemerataan dan efektivitas pendidikan
Penerimaan untuk bersekolah harus didasarkan hanya
pada faktor kemampuan individual anak, bukannya pada status sosial orang
tuanya. Siswa yang berkemampuan rendah pun harus diberi pendidikan sama dengan
berkemampuan tinggi, agar tidak terjadi jurang pemisah yang semakin melebar
dalam masyarakat masa depan.
3.
Amerika Serikat
Amerika Serikat adalah negara adikuasa dari beberapa
aspek. Pendidikan di Amerika Serikat pun juga tergolong maju. Terbukti banyak
universitas dan perguruan tinggi di AS yang menjadi tujuan favorit untuk
melanjutkan studi. Universitas itu antara lain UCLA, Boston College, Yale
University, Harvard University dan lain-lain.
Namun pendidikan di Amerika Serikat juga tidak
terlepas dari masalah. Washington Post pada tahun 2011 mengemukakan ada dua
problem yang terjadi pada pendidikan di Amerika Serikat. Pertama, sesuai
laporan dari Organization of Economic Cooperation and Development (OECD),
menunjukkan adanya penurunan tingkat lulusan pemuda dewasa pada perguruan
tinggi. Sedangkan yang kedua adalah meningkatnya jumlah pinjaman para mahasiswa
yang melebihi batas tempo.
Menurut Dr. James M. Lindsay, ada beberapa sebab
yang menjadikan turunnya tingkat kelulusan di perguruan tinggi serta
meningkatnya jumlah pinjaman yang dilakukan oleh mahasiswa. Salah satu
penyebabnya adalah semakin meningkatnya biaya pendidikan di perguruan tinggi.
Banyak mahasiswa yang membiayai kuliah dengan mengandalkan pinjaman sebagai
investasi dalam bentuk human capital. Namun apabila jumlah pinjaman tersebut
meningkat tajam serta banyak yang habis jatuh temponya maka juga akan menjadi
masalah.
4.
Turki
Menurut informasi ada beberapa masalah yang menjadi permasalahan di Turki. Masalah dasar
dari sistem pendidikan tinggi di Turki adalah sebagai berikut:
a. Jumlah siswa dengan gelar doktor di universitas tidak
cukup karena siswa tidak didorong untuk mengejar gelar doktor dan bekerja di
universitas.
b. Universitas di Turki kurang memperhatikan masalah
masyarakat dan telah gagal untuk mengembangkan kerjasama dengan lembaga-lembaga
negara dan lembaga swadaya masyarakat pada isu-isu seperti pendidikan,
perawatan kesehatan, energi, pertanian dan jasa kota.
c. Program pendidikan di perguruan tinggi tidak siap
untuk memenuhi kebutuhan sektor usaha, ini berarti ada ketidakharmonisan antara
siswa memperoleh keterampilan di universitas dan ketrampilan yang dituntut oleh
kalangan bisnis.
d. Lembaga pendidikan tinggi di Turki juga gagal
memberikan dukungan yang cukup untuk pembangunan ekonomi negara.
e. Universitas Turki tertinggal di belakang perkembangan
dunia mengenai lisensi dan transfer teknologi.
f. Kebanyakan anggota staf akademik di universitas tidak
dilengkapi dengan pengetahuan pedagogis.
E. Problem
Pendidikan di Negara Berkembang
Negara-negara berkembang merupakan negara yang baru
memulai untuk bangkit mengadakan pembangunan di berbagai aspek baik itu
ekonomi, politik, ilmu pengetahuan dan teknologi, dan lain-lain. Dengan
demikian ada beberapa ciri dari negara berkembang yaitu:
1.
Secara politis,
pada umumnya baru mengalami kemerdekaan atau lepas dari penjajahan
2.
Secara ekonomi,
pada umumnya miskin dan masih sangat bergantung pada alam
3.
Secara
demografis, pada umumnya padat penduduk, dengan tingkat pertumbuhan penduduk
yang tinggi
4.
Secara budaya,
kokoh berpegang pada warisan
budaya
Beberapa hal di atas sangat berpengaruh terhadap kebijakan
yang diambil pemerintah dalam pembangunan. Hal ini pun berdampak pada sistem
pendidikan nasional.
Seperti halnya negara maju,
negara berkembang memiliki berbagai masalah pendidikan yang semakin kompleks. Yang dimaksud kompleks adalah karena dari segi ekonomi
dan teknologi, negara yang berkembang memang
ketinggalan. Dengan berbagai ketertinggalannya tersebut mengakibatkan masalah
yang timbul di dunia pendidikan pun semakin kompleks.Berikut ini adalah contoh-contoh negara berkembang yang mengalami
persoalan-persoalan pendidikan:
a.
India
Ada beberapa masalah
pendidikan yang dialami India saat ini. Permasalahan pendidikan di India banyak
dipengaruhi oleh beberapa faktor.
(1.) Faktor ekonomi, banyak
siswa di India yang tidak dapat melanjutkan studi karena masalah biaya.
(2.) Faktor social, ada anggapan
bahwa wanita terutama di pedesaan tidak memerlukan pendidikan, lebih baik
menjadi ibu rumah tangga saja.
(3.) Faktor sistem pendidikan,
banyak siswa menengah atas yang tidak bisa melanjutkan pendidikan karena
kurangnya daya tampung yang disediakan oleh universitas. Selain itu, pendidikan
pemerintah juga kurang memenuhi standar dibandingkan pendidikan swasta. Ada
juga kasus, banyaknya mahasiswa yang menganggur karena tidak mendapatkan
pekerjaan.
(4.) Faktor kedisiplinan guru, ada
beberapa kasus di India banyak guru-guru yang sudah difasilitasi oleh pemerintah
tidak menjalankan tugasnya dengan semestinya.
b.
Pakistan
Pakistan sebagai negara Islam
yang berkembang memiliki beberapa masalah pendidikan. Menurut data dari
UNESCO, penyelesaian studi pada pendidikan dasar di Pakistan yaitu 33,8% pada wanita dan 47,18% pada laki-laki. Hal ini menunjukkan
tingkat kelulusan pendidikan dasar di Pakistan sangat rendah.
Setidaknya ada 6 masalah pokok
yang menjadi persoalan terjadi di Pakistan. Masalah-masalah tersebut yaitu:
(1.) Faktor kemiskinan
(2.) Kesenjangan antar daerah
(3.) Diskriminasi gender
(4.) Kurangnya pendidikan yang
bersifat teknis, sehingga banyak lulusan yang tidak mempunyai skill yang
mumpuni
(5.) Kurangnya alokasi dana dari
pemerintah
(6.) Kurangnya tenaga pendidik atau
guru yang professional
Dari contoh-contoh di atas
dapat dilihat bahwa permasalahan pendidikan yang terjadi di Negara berkembang disebabkan
oleh faktor ekonomi.Siswa tidak melanjutkan pendidikannya karena tidak memiliki
biaya. Selain itu, kurangnya dana juga menyebabkan kurang tersedianya
sarana prasarana serta teknologi yang memadai. Apalagi di era globalisasi saat
ini yang berdampak pada semakin cepatnya arus informasi dan teknologi. Jika
sekolah tidak siap menghadapi globalisasi maka ketertinggalan yang akan
terjadi.
Masalah sosial seperti gender
juga terjadi di dunia pendidikan Negara-negara berkembang, banyak wanita yang
putus sekolah karena dipandang tidak perlu pendidikan tinggi. Mereka
beranggapan bahwa wanita nantinya hanya menjadi ibu rumah tangga.
Peningkatan kualitas guru juga
menjadi masalah penting yang harus dibenahi oleh negara-negara berkembang.
Pendidikan dan pelatihan menjadi guru professional menjadi sangat penting bagi
negara-negara berkembang. Hal ini
dikarenakan guru merupakan ujung tombak pendidikan nasional.
Menurut Tadjab dalam bukunya
Perbandingan Pendidikan ada beberapa hal mendasar yang menjadi persoalan
pendidikan di negara berkembang. Setidaknya ada tiga masalah, yaitu:
(a.) Peningkatan pendidikan guru
Banyak negara-negara di Asia, Afrika dan Amerika Latin yang
kekurangan guru. Sebagian besar dari guru-guru tersebut kurang memiliki
kompetensi yang memadai sebagai guru yang professional sehingga peningkatan
melalui pendidikan dan pelatihan guru merupakan tugas utama negara berkembang.
(b.) Sistem tradisional yang
ditinggalkan
Negara-negara berkembang biasanya memiliki kebudayaan yang menjadi produk unggulannya. Namun seiring perkembang
zaman kebudayaan tersebut mulai diabaikan dan beralih ke sektor modern.
Pengabaian kebudayaan tersebut justru akan semakin menjatuhkan pendidikan,
sehingga isu menipisnya karakter siswa mencuat akhir-akhir ini.
(c.) Sistem sekolah yang banyak
meng-impor dari luar negeri
Beberapa negara berkembang
terutama negara jajahan mewarisi model pendidikan para penjajahnya. Hal ini
terjadi di beberapa negara-negara Afrika dan Asia, yang mengadopsi model-model
pendidikan seperti Perancis dan Inggris.
BAB
III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Pendidikan memiliki tugas untuk menyiapkan sumber daya
manusia untuk pembangunan dari suatu bangsa tersebut. Setiap langkah dalam
pembangunan selalu diupayakan beriringan dengan tuntutan kamajuan zaman.
Perkembangan zaman yang selalu berubah dan memunculkan berbagai permasalahan
baru yang sebelumnya tidak pernah kita pikirkan sebelumnya.
Pendidikan yang ada di Indonesia merupakan salah satu negara
yang kurang maju di dunia di bidang pendidikan ini. Hal tersebut di
karenakan adanya masalah pendidikan di Indonesia yang belum dapat ditangani
dengan tuntas. Adapaun masalah pendidikan di Indonesia seperti pergantian
kurikulum 2013 yang tidak habis-habisnya dibicarakan. Karena membut para guru
kesulitan dalam mengajar dengan kurikulum 2013.
Pembaharuan
dalam bidang pendidikan merupakan suatu karakter dunia
modern. Hal tersebut pada dasarnya berkisar pada persepsi bahwa pendidikan
merupakan menara gading dan bahkan pelopor pembaharuan. Negara-negara di dunia selalu berupaya untuk memajukan negaranya melalui
sistem pendidikan. Namun usaha tersebut bukanlah tidak mengalami hambatan.
Hambatan tersebut tidak hanya di alami oleh negara-negara yang sedang
berkembang namun juga negara-negara yang notabene sudah maju seperti Inggris,
Jepang, AS dan lain-lain.
Masalah yang di alami oleh sebagian negara maju antara lain, persoalan
transisi, pemerataan, program long life education, pendidikan guru
serta keefektivan penambahan fasilitas. Amerika Serikat sebagai negara super
power juga mengalami masalah pendidikan terutama pendidikan di perguruan tinggi
yang semakin mahal. Sedangkan Turki sebagai negara Islam modern mengalami
berbagai masalah di universitasnya.
Jika dicermati ada beberapa persamaan permasalahan yang terjadi antara
negara maju dengan negara berkembang. Contohnya, masalah peningkatan guru.
Setiap negara menyadari bahwa guru merupakan sosok penting dalam dunia
pendidikan sehingga perlu adanya usaha peningkatan kualitas guru. Baik negara
maju maupun berkembang sedang berupaya untuk selalu meningkatkan kualitas guru
agar pendidikan semakin maju.
B. Saran
Penulis menyadari bahwa masih telalu
banyak kesalahan dan kekhilafan dalam penyusunan makalah ini. Oleh karena itu
penulis mengharapkan saran dan kritikan yang sifatnya membangun guna
kesempurnaan makalah ini.
DAFTAR
PUSTAKA
Tidak ada komentar:
Posting Komentar