mtma

mtma
mtma

Rabu, 03 Juni 2015

MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK BUDAYA

MAKALAH
MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK BUDAYA
Mata Kuliah :
Dosen : Maha Lastasa, M.Pd




Disusun Oleh :
Kristianus Gonsaga
Siti Maisyarah
Niswatul Hasana
Nevi Dela Utami

PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS KEGURUAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS TANJUNGPURA
PONTIANAK
2O13




BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Manusia sebagai makhluk yang berbudaya tidak lain adalah makhluk yang senantiasa menggunakan akal budinya untuk menciptakan kebahagiaan, karena yang membahagiakan hidup manusia itu hakikatnya sesuatu yang baik, benar dan adil, maka hanya manusia yang selalu berusaha menciptakan kebaikan, kebenaran dan keadilan sajalah yang berhak menyandang gelar manusia berbudaya.
Manusia juga mempunyai akal yang dapat memperhitungkan tindakannya melalui proses belajar-mengajar , karena itu manusia harus bersosialisasi dengan lingkungan, yang merupakan pendidikan awal dalam suatu interaksi sosial, Agar hasil dari pendidikan, yakni kebudayaan dapat diimplementasikan dimasyarakat.
Dengan demikian dapat kita katakan bahwa kualitas manusia pada suatu negara akan menentukan kualitas kebudayaan dari suatu negara tersebut, begitu pula pendidikan yang tinggi akan menghasilkan kebudayaan yang tinggi. Karena kebudayaan adalah hasil dari pendidikan suatu bangsa.

1.2 Rumusan Masalah

·         Apakah hakikat manusia sebagi mahluk berbudaya ?
·         Apakah budaya memanusiakan manusia itu?
·         Apakah pengaruh budaya dalam kehidupan manusia?


1.3 Tujuan

                Tujuan dari penulisan makalah ini adalah :
Ø  Untuk memenuhi tugas mata kuliah Ilmu Budaya Dasar
Ø  Untuk mengetahui mengapa manusia disebut sebagai makhluk yang berbudaya
Ø  Untuk mengetahui perwujudan masyarakat Indonesia sebagai makhluk yang berbudaya

1.4 Manfaat

            Manfaatnya adalah agar dapat mempermuda yang membaca memahami isi dari makala ini. Dan makalah ini dapat di jadikan panduan untuk pelajaran Ilmu Sosial Budaya Dasar (ISBD).
BAB II
PEMBAHASAN


2.1    Memanusiakan Manusia

Manusia tidah hanya sekedar homo, tetapi harus di tingkatkan menjadi huma dengan cara memiliki prinsip, nilai dan rasa kemanusiaan yang melekat pada dirinya. Memanusiakan manusia berarti perilaku manusia untuk senantiasa menghargai dan menghormati harkat dan derajat manusia lainnya. Artinya tidak menindas sesama, tidak menghardik, tidak bersifat kasar, tidak menyakiti, dan perilaku buruk lainnya.
 Memanusiakan manusia memberi keuntungan bagi diri sendiri maupun orang lain. Bagi diri sendiri akan menunjukan harga diri dan nilai luhur pribadinya sebagai manusia. Sedangkan    bagi orang lain akan memberikan rasa percaya, rasa hormat, kedamaian, dan   kesejahteraan hidup. Sebaliknya, sikap tidak manusiawi terhadap manusia lain hanya akan merendahkan harga diri dan martabatnya sebagai manusia yang sesungguhnya makhluk mulia. Sedangkan bagi orang lain sebagai korban tindakan yang tidak manusiawi akan menciptakan penderitaan, kesusahan, ketakutan, perasaan dendam, dan sebagainya,
Perilaku tidak manusiawi dicontohkan dengan adanya kasus kekerasaan terhadap para pembantu rumah tangga. Misalkan seorang pembantu disiksa, tidak diberi upah, dikurung dalam rumah,dan sebagainya. Para majikan telah melakukan tindakan yang bertentangan dengan prinsip-prinsip kemanusiaan.
 Perilaku yang manusiawi atau memanusiakan manusia adalah sesuai dengan kodrat manusia. Sebaliknya, perilaku yang tidak manusiawi bertentangan dengan hakikat kodrat manusia.  Perilaku yang tidak manusiawi akan mendatangkan kerusakan hidup manusia.
2.2   Hakikat Manusia Sebagai Makhluk Budaya
Manusia adalah salah satu makhluk Tuhan di dunia. Makhluk Tuhan dialam fana ini ada empat macam ,makhluk Tuhan dialam ini dapat dibagi yaitu :
- Alam
– tumbuhan
- Binatang
 – Manusia

Sifat-sifat yang dimiliki dari keempat makhluk diatas adalah :
1. Alam memiliki sifat wujud
2. Tumbuhan memilliki sifat wujud dan hidup
3. Binatang memiliki sifat wujud,hidup dan dibekali nafsu
4. Manusia memiliki sifat wujud,hidup,dibekali nafsu,serta akal budi

Akal budi merupakan kelebihan yang dimiliki oleh manusia. Akal adalah kemampuan berpikir manusia sebagai kodrat, Budi artinya akal juga atau arti lain bagian dari hati, budi berasal dari bahasa Sanskerta Budi yaitu Budha yang artinya akal, tabiat, perangai, dan akhlak. Menurut Sultan Takdir Alisyahbana, budi yang menyebabkan manusia mengembangkan suatu hubungan bermakna dengan alam sekitarnya dengan jalan memberikan penilaian objektif terhadap objek dan kejadian. Hal ini dilengkap oleh kamus Lengkap Bahasa Indonesia Budi adalah bagian dari kata hati yang berupa paduan akal dan perasaan yang dapat membedakan baik dan buruk.
            Menurut pendapat   Abram Maslow seorang ahli psikologi, berpendapat bahwa kebutuhan manusia dalam hidup dibagi menjadi lima tingkatan. Kelima tingkatan tersebut adalah sebagai berikut :
1.           Kebutuhan psikologis (physiological needs). Kebutuhan ini merupakan kebutuhan dasar, primer dan vita. Kebutuhan ini menyangkut fungsi–fungsi biologis dasar dari organisme manusia, seperti kebutuhan akan makanan, pakaian tempat tinggal, sembuh dari sakit, kebutuhan seks dan sebagainya.
2.           Kebutuhan akan rasa aman dan perlindungan (safety and security needs). Kebutuhan ini menyangkut perasaan, seperti bebas dari rasa takut, terlindung dari bahaya dan ancaman penyakit, perang, kemiskinan, kelaparan, perlakuan tidak adil dan sebagaimya.
3.           Kebutuhan sosial (sosial needs). Kebutuhan ini meliputi kebutuhan akan dicintai,
diperhitungkan sebagai pribadi, diakui sebagai anggota kelompok, rasa  setia   kawan,   kerja  sama,  persahabatan,  interaki, dan  seterusnya.
       4.      Kebutuhan akan penghargaan (esteem needs). Kebutuhan ini meliputi    kebutuhan
               dihargainya kemampuan, kedudukan jabatan, status, pangkat, dan sebagainya.
       5.      Kebutuhan akan aktualisasi diri (self actualization). Kebutuhan ini meliputi kebutuhan
                untuk memaksimalkan penggunaan potensi–potensi, kemampuan, bakat, kreativitas, 
               ekspresi diri, prestasi dan sebagainya.
           
            Menurut Maslow, kebutuhan manusia pertama–tama diawali dari kebutuhan psiklogis atau paling mendesak kemudian secara bertahap beralih ke kebutuhan tingkat di atasnya sampai tingkatan tertinggi, yaitu kebutuhan aktualisasi diri. Beliau menjelaskan bahwa kita tidak dapat memenuhi kebutuhan kita yang lebih tinggi kalau kebutuhan yang lebih rendah belum terpenuhi. Itu berarti kebuthan nomor lima akan diupayakan pemenuhannya kalau kita sudah memenuhi kebutuhan–kebutuhan sebelumnya. Jadi, kebutuhan manusia bertingkat dan membentuk hirarki.


2.3   Apresiasi Terhadap Manusia dan Kebudayaan

Apresiasi menurut kamus bahasa Indonesia adalah penilaian baik/ penghargaan terhadap karya sastra dan seni. Menurut saya Apresiasi adalah menampilkan suatu karya-karya / melakukan sesuatu yang bias dijadikan karya seni.

Dimasa sekarang ini, Apresiasi terhadap kemanusiaan dan kebudayaan kita ini semakin langka (berkurang). Apresiasi dalam kebudayaan ialah belum sesuai dengan harapan kita, maka dari itu kita generasi muda seharusnya bias menghidupkan kembali kebudayaan kita ini dengan mengapresiasikannya, sehingga nilai-nilai kemanusiaan dan nilai-nilai kebudayaan kita tetap terjaga dan lestari sehingga tidak akan punah.


2.4   Etika Dan Estetika Berbudaya

1. Etika manusia dalam berbudaya
Etika berasal dr kata Yunani,yaitu Ethos,secara etimologis etika adalah ajaran tentang
baik buruk Etika sama artinya dengan moral (mores dalam bahasa latin) yang berbicara tentang
peredikat nilai susila,atau tidak susila,baik dan buruk.
Bertens menyebutkan ada tiga jenis makna etika yaitu :
Ø  Etika dalam nilai-nilai atau norma untuk pegangan seseorang atau kelompok orang dalam mengatur tingkah laku.
Ø   Etika dalam kumpulan asas atau moral (dalam arti lain kode etik)
Ø  Etika dalam arti ilmu atau ajaran tentang baik dan buruk artinya daalam filsafat moral.
2. Estetika Manusia dalam Berbudaya
Estetika dapat diartikan lain sebagai teori tentang keindahan
Keindahan dapat diartikan beberapa hal yaitu :
ü  Secaara luas yaitu mengandung ide yang baik yang meliputi watak indah,hukum yang indah,ilmu yang indah,dan lain sebagainya.
ü  Secara sempit yaitu indahn yang terbatas pada lingkup persepsi penglihatan (bentuk dan warna)
ü   Secara estetik murni yaitu menyangkut pengalaman yang berhubungan dengan penglihatan,pendengaran dan etika

 Etika Manusia dalam Berbudaya
v  Estetika adalah teori tentang keindahan atau seni.
v  Secara luas: keindahan mengandung ide kebaikan. Segala sesuatu yang baik termasuk yang abstak maupun yang nyata mengandung ide kebaikan adalah indah.
v  Secara sempit: indah yang terbatas pada lingkup persepsi penglihatan (bentuk dan warna).
v  Secara etik murni: menyangkut pengalaman estetik seseorang dalam hubungannya dengan segala sesuatu yang diresapinya melalui penglihatan, pendengaran, perabaan dan perasaan yang semuanya dapat menimbulkan persepsi atau anggapan indah.
v  Estetika budaya menyiratkan perlunya manusia untuk menghargai keindahan budaya yang dihasilkan manusia lainnya.
v  Estetika yang demikian akan mampu memecahkan sekat-sekat kebekuan, ketidakpercayaan, kecurigaan dan rasa inferioritas antar budaya.

2.5   Problematika Kebudayaan
Beberapa problematika kebudayaan, antara lain:
1.      Hambatan budaya yang berkaitan dengan pandangan hidup dan sistem kepercayaan. Keterkaitan orang jawa terhadap tanah yang mereka temapti secara  turun temurun diyakini sebagai pemberi berkah kehidupan. Mereka enggan meninggalkan kampung halamanya atau beralih ola hidup sebagai petani. Padahal hidup ereka umumnya miskin.
2.      Hambatan budaya yang berkaitan dengan perbedaan persepsi atau sudut pandang hambatan budaya yang berkaitan dengan persepsi atau sudut pandang ini daat terjadi antara masyarakat dan pelaksana pembangunan. Contohnya, program Keluarga Berencana atau KB semula ditolak masyarakat, mereka beranggapan bahwa anak anak banyak rezeki.
3.      Hambatan budaya berkaitan dengan faktor psikologi atau kejiwaan.
Upaya untuk mentransmigrasikan penduduk dari daerah yang terkena bencana alam banyak mengalami kesulitan. Hal ini disebabkan karena adanya kekhawatiran penduduk bahwa di tempat yang baru hidup mereka akan lebih sengsara dibandingkan dengan hidup mereka di tempat yang lama.
4.      Masyarakat yang terasing dan kurang komunikasi dengan masyarakat luar.
Masyarakat daerah-daerah terpencil yang kurang komunikasi dengan masyarakat luar, karena pengetahuannya serba terbatas, seolah-olah tertutp untuk menerima program-program pembangunan.
5.      Sikap tradisionalisme yang berprasangka buruk terhadap hal-hal baru.
Sikap ini sangat menagung-agungkan budaya tradisional sedemikian rupa, yang menganggap hal-hal baru itu akan merusak tatanan hidup mereka yang sudah mereka miliki secara turun-temurun.
6.       Sikap etnosentrisme.
Sikap etnosentrisme adalah sikap mengagungkan budaya suku bangsanya sendiri dan menganggap rendah budaya suku bangsa lain. Sikap semacam ini akan mudah memicu timbulnya kasus-kasus sara, yakni pertentangan suku, agama, ras, dan antar golongan. Sikap ini dapat menimbulkan kecenderungan perpecahan dengan sikapa kelakuan yang lebih tinggi terhadap budaya lain.
7.      Perkembangan IPTEK sebgai hasil dari kebudayaan, sering kali disalhagunakan oleh manusia, sebagai contoh nuklir dan bom dibuat justru untuk menghancurkan manusia bukan untuk melestarikan suatu generasi, obat-obatan diciptakan untuk kesehatan tetapi pengunaannya banyak disalhgunkan yang justru mengganggu kesehatan manusia.



BAB III
PENUTUP, KESIMPULAN DAN SARAN

3.1  Kesimpulan

Manusia merupakan salah satu atau satu – satunya dari mahluk ciptaan Tuhan yang dikaruniani akal dan pikiran sehingga dapat digunakan untuk mengembangkan pengetauhan yang pada akhirnya dapat melahirkan suatu kebudayaan. Sedangkan kebudayaan merupakan hasil dari budi dan daya dari manusia yang berkembang dan diikuti oleh masyarakat tertentu sehingga antara masyarakat satu dan yang lain memiliki kebudayaan yang berbeda.

Manusia di dalam budaya tersebut memiliki kedudukan tertentu yang didikuti oleh nilai – nilai etika dan estetika yang luhur yang dapat menimbulkan suatu keindahan tertentu. Budaya sangat berpengaruh dan bermanfaat dalam kehidupan manusia baik itu secara individu maupun secara lintas budaya.


3.2  Saran

1.      Memperbanyak membaca buku – buku yang relevan mengenai media dan sumber pembelajaran.
2.      Membaca dengan cermat dan teliti disetiap pokok bahasan sehingga dapat menimbulkan suatu pemahaman.
3.      Khususnya bagi generasi muda adalah calon sarjana, jadi anda harus mempunyai wawasan yang luas dan berintelektual tinggi.





DAFTAR PUSTAKA

Alisyahbana, Sultan Takdir, Prof. Dr S.H., 1981. Kebudayaan sdan peradaban. Bahan Penataran
                Pengajar Ilmu Sosial dan Budaya Dasar Wilayah Indonesia Barat di Bukit Tinggi.

   
Dra. Elly M. Setiady, M.Si,  Drs. H. Kama A. Hakam, M.Pd. 2008. Ilmu Sosial dan Budaya Dasar.  Jakarta: Kencana.

A.A. Sitompul.1993. Manusia dan Budaya, Jakarta: Gunung Mulia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar