MAKALAH
MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK BUDAYA
Mata Kuliah :
Dosen : Maha Lastasa, M.Pd
Disusun
Oleh :
Kristianus
Gonsaga
Siti
Maisyarah
Niswatul
Hasana
Nevi
Dela Utami
PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS KEGURUAN ILMU
PENDIDIKAN
UNIVERSITAS TANJUNGPURA
PONTIANAK
2O13
BAB
I
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Manusia sebagai makhluk
yang berbudaya tidak lain adalah makhluk yang senantiasa menggunakan akal
budinya untuk menciptakan kebahagiaan, karena yang membahagiakan hidup manusia itu
hakikatnya sesuatu yang baik, benar dan adil, maka hanya manusia yang selalu
berusaha menciptakan kebaikan, kebenaran dan keadilan sajalah yang berhak
menyandang gelar manusia berbudaya.
Manusia juga mempunyai
akal yang dapat memperhitungkan tindakannya melalui proses belajar-mengajar ,
karena itu manusia harus bersosialisasi dengan lingkungan, yang merupakan
pendidikan awal dalam suatu interaksi sosial, Agar hasil dari pendidikan, yakni
kebudayaan dapat diimplementasikan dimasyarakat.
Dengan demikian dapat kita
katakan bahwa kualitas manusia pada suatu negara akan menentukan kualitas
kebudayaan dari suatu negara tersebut, begitu pula pendidikan yang tinggi akan
menghasilkan kebudayaan yang tinggi. Karena kebudayaan adalah hasil dari
pendidikan suatu bangsa.
1.2 Rumusan Masalah
·
Apakah
hakikat manusia sebagi mahluk berbudaya ?
·
Apakah
budaya memanusiakan manusia itu?
·
Apakah
pengaruh budaya dalam kehidupan manusia?
1.3 Tujuan
Tujuan dari penulisan makalah
ini adalah :
Ø
Untuk
memenuhi tugas mata kuliah Ilmu Budaya Dasar
Ø
Untuk
mengetahui mengapa manusia disebut sebagai makhluk yang berbudaya
Ø
Untuk
mengetahui perwujudan masyarakat Indonesia sebagai makhluk yang berbudaya
1.4 Manfaat
Manfaatnya adalah agar dapat
mempermuda yang membaca memahami isi dari makala ini. Dan makalah ini dapat di
jadikan panduan untuk pelajaran Ilmu Sosial Budaya Dasar (ISBD).
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1 Memanusiakan Manusia
Manusia tidah hanya sekedar homo, tetapi harus
di tingkatkan menjadi huma dengan cara memiliki prinsip, nilai dan rasa
kemanusiaan yang melekat pada dirinya. Memanusiakan manusia berarti perilaku
manusia untuk senantiasa menghargai dan menghormati harkat dan derajat manusia
lainnya. Artinya tidak menindas sesama, tidak menghardik, tidak bersifat kasar,
tidak menyakiti, dan perilaku buruk lainnya.
Memanusiakan manusia memberi keuntungan bagi
diri sendiri maupun orang lain. Bagi diri sendiri akan menunjukan harga diri
dan nilai luhur pribadinya sebagai manusia. Sedangkan bagi orang lain akan memberikan rasa
percaya, rasa hormat, kedamaian, dan
kesejahteraan hidup. Sebaliknya, sikap tidak manusiawi terhadap manusia
lain hanya akan merendahkan harga diri dan martabatnya sebagai manusia yang
sesungguhnya makhluk mulia. Sedangkan bagi orang lain sebagai korban tindakan
yang tidak manusiawi akan menciptakan penderitaan, kesusahan, ketakutan,
perasaan dendam, dan sebagainya,
Perilaku tidak manusiawi dicontohkan dengan
adanya kasus kekerasaan terhadap para pembantu rumah tangga. Misalkan seorang
pembantu disiksa, tidak diberi upah, dikurung dalam rumah,dan sebagainya. Para
majikan telah melakukan tindakan yang bertentangan dengan prinsip-prinsip
kemanusiaan.
Perilaku yang manusiawi atau memanusiakan
manusia adalah sesuai dengan kodrat manusia. Sebaliknya, perilaku yang tidak
manusiawi bertentangan dengan hakikat kodrat manusia. Perilaku yang tidak manusiawi akan
mendatangkan kerusakan hidup manusia.
2.2
Hakikat Manusia Sebagai Makhluk Budaya
Manusia adalah salah satu makhluk Tuhan di dunia. Makhluk Tuhan
dialam fana ini ada empat macam ,makhluk Tuhan dialam ini dapat dibagi yaitu :
-
Alam
–
tumbuhan
-
Binatang
– Manusia
Sifat-sifat
yang dimiliki dari keempat makhluk diatas adalah :
1.
Alam memiliki sifat wujud
2.
Tumbuhan memilliki sifat wujud dan hidup
3.
Binatang memiliki sifat wujud,hidup dan dibekali nafsu
4.
Manusia memiliki sifat wujud,hidup,dibekali nafsu,serta akal budi
Akal
budi merupakan kelebihan yang dimiliki oleh manusia. Akal adalah kemampuan
berpikir manusia sebagai kodrat, Budi artinya akal juga atau arti lain bagian
dari hati, budi berasal dari bahasa Sanskerta Budi yaitu Budha yang artinya
akal, tabiat, perangai, dan akhlak. Menurut Sultan Takdir Alisyahbana, budi
yang menyebabkan manusia mengembangkan suatu hubungan bermakna dengan alam
sekitarnya dengan jalan memberikan penilaian objektif terhadap objek dan
kejadian. Hal ini dilengkap oleh kamus Lengkap Bahasa Indonesia Budi adalah
bagian dari kata hati yang berupa paduan akal dan perasaan yang dapat
membedakan baik dan buruk.
Menurut pendapat Abram
Maslow seorang ahli psikologi, berpendapat bahwa kebutuhan manusia dalam hidup
dibagi menjadi lima tingkatan. Kelima tingkatan tersebut adalah sebagai berikut
:
1.
Kebutuhan
psikologis (physiological needs). Kebutuhan ini merupakan kebutuhan dasar,
primer dan vita. Kebutuhan ini menyangkut fungsi–fungsi biologis dasar dari
organisme manusia, seperti kebutuhan akan makanan, pakaian tempat tinggal,
sembuh dari sakit, kebutuhan seks dan sebagainya.
2.
Kebutuhan akan
rasa aman dan perlindungan (safety and security needs). Kebutuhan ini
menyangkut perasaan, seperti bebas dari rasa takut, terlindung dari bahaya dan
ancaman penyakit, perang, kemiskinan, kelaparan, perlakuan tidak adil dan
sebagaimya.
3.
Kebutuhan sosial
(sosial needs). Kebutuhan ini meliputi kebutuhan akan dicintai,
diperhitungkan sebagai pribadi, diakui sebagai anggota kelompok,
rasa setia kawan,
kerja sama, persahabatan,
interaki, dan seterusnya.
4.
Kebutuhan akan penghargaan (esteem needs). Kebutuhan ini meliputi kebutuhan
dihargainya kemampuan, kedudukan jabatan, status, pangkat, dan
sebagainya.
5.
Kebutuhan akan aktualisasi diri (self actualization). Kebutuhan ini
meliputi kebutuhan
untuk memaksimalkan penggunaan
potensi–potensi, kemampuan, bakat, kreativitas,
ekspresi diri, prestasi dan sebagainya.
Menurut
Maslow, kebutuhan manusia pertama–tama diawali dari kebutuhan psiklogis atau
paling mendesak kemudian secara bertahap beralih ke kebutuhan tingkat di
atasnya sampai tingkatan tertinggi, yaitu kebutuhan aktualisasi diri. Beliau
menjelaskan bahwa kita tidak dapat memenuhi kebutuhan kita yang lebih tinggi
kalau kebutuhan yang lebih rendah belum terpenuhi. Itu berarti kebuthan nomor
lima akan diupayakan pemenuhannya kalau kita sudah memenuhi kebutuhan–kebutuhan
sebelumnya. Jadi, kebutuhan manusia bertingkat dan membentuk hirarki.
2.3 Apresiasi
Terhadap Manusia dan Kebudayaan
Apresiasi menurut kamus bahasa Indonesia adalah penilaian baik/
penghargaan terhadap karya sastra dan seni. Menurut saya Apresiasi adalah
menampilkan suatu karya-karya / melakukan sesuatu yang bias dijadikan karya
seni.
Dimasa sekarang ini, Apresiasi terhadap kemanusiaan dan kebudayaan
kita ini semakin langka (berkurang). Apresiasi dalam kebudayaan ialah belum
sesuai dengan harapan kita, maka dari itu kita generasi muda seharusnya bias
menghidupkan kembali kebudayaan kita ini dengan mengapresiasikannya, sehingga
nilai-nilai kemanusiaan dan nilai-nilai kebudayaan kita tetap terjaga dan lestari
sehingga tidak akan punah.
2.4 Etika Dan
Estetika Berbudaya
1. Etika manusia dalam berbudaya
Etika berasal dr kata Yunani,yaitu Ethos,secara etimologis etika
adalah ajaran tentang
baik
buruk Etika sama artinya dengan moral (mores dalam bahasa latin) yang berbicara
tentang
peredikat
nilai susila,atau tidak susila,baik dan buruk.
Bertens
menyebutkan ada tiga jenis makna etika yaitu :
Ø Etika dalam nilai-nilai atau norma untuk
pegangan seseorang atau kelompok orang dalam mengatur tingkah laku.
Ø Etika
dalam kumpulan asas atau moral (dalam arti lain kode etik)
Ø Etika dalam arti ilmu atau ajaran tentang baik
dan buruk artinya daalam filsafat moral.
2. Estetika Manusia dalam Berbudaya
Estetika
dapat diartikan lain sebagai teori tentang keindahan
Keindahan dapat diartikan beberapa hal
yaitu :
ü Secaara luas yaitu mengandung ide yang baik
yang meliputi watak indah,hukum yang indah,ilmu yang indah,dan lain sebagainya.
ü Secara sempit yaitu indahn yang terbatas pada
lingkup persepsi penglihatan (bentuk dan warna)
ü Secara
estetik murni yaitu menyangkut pengalaman yang berhubungan dengan
penglihatan,pendengaran dan etika
Etika
Manusia dalam Berbudaya
v Estetika adalah teori tentang keindahan atau
seni.
v Secara luas: keindahan mengandung ide
kebaikan. Segala sesuatu yang baik termasuk yang abstak maupun yang nyata
mengandung ide kebaikan adalah indah.
v Secara sempit: indah yang terbatas pada
lingkup persepsi penglihatan (bentuk dan warna).
v Secara etik murni: menyangkut pengalaman
estetik seseorang dalam hubungannya dengan segala sesuatu yang diresapinya
melalui penglihatan, pendengaran, perabaan dan perasaan yang semuanya dapat
menimbulkan persepsi atau anggapan indah.
v Estetika budaya menyiratkan perlunya manusia
untuk menghargai keindahan budaya yang dihasilkan manusia lainnya.
v Estetika yang demikian akan mampu memecahkan
sekat-sekat kebekuan, ketidakpercayaan, kecurigaan dan rasa inferioritas antar
budaya.
2.5
Problematika Kebudayaan
Beberapa
problematika kebudayaan, antara lain:
1. Hambatan budaya yang berkaitan dengan
pandangan hidup dan sistem kepercayaan. Keterkaitan orang jawa terhadap tanah
yang mereka temapti secara turun temurun
diyakini sebagai pemberi berkah kehidupan. Mereka enggan meninggalkan kampung
halamanya atau beralih ola hidup sebagai petani. Padahal hidup ereka umumnya
miskin.
2. Hambatan budaya yang berkaitan dengan
perbedaan persepsi atau sudut pandang hambatan budaya yang berkaitan dengan
persepsi atau sudut pandang ini daat terjadi antara masyarakat dan pelaksana
pembangunan. Contohnya, program Keluarga Berencana atau KB semula ditolak
masyarakat, mereka beranggapan bahwa anak anak banyak rezeki.
3. Hambatan budaya berkaitan dengan faktor
psikologi atau kejiwaan.
Upaya untuk mentransmigrasikan penduduk dari
daerah yang terkena bencana alam banyak mengalami kesulitan. Hal ini disebabkan
karena adanya kekhawatiran penduduk bahwa di tempat yang baru hidup mereka akan
lebih sengsara dibandingkan dengan hidup mereka di tempat yang lama.
4. Masyarakat yang terasing dan kurang komunikasi
dengan masyarakat luar.
Masyarakat daerah-daerah terpencil yang kurang
komunikasi dengan masyarakat luar, karena pengetahuannya serba terbatas,
seolah-olah tertutp untuk menerima program-program pembangunan.
5. Sikap tradisionalisme yang berprasangka buruk
terhadap hal-hal baru.
Sikap ini sangat menagung-agungkan budaya
tradisional sedemikian rupa, yang menganggap hal-hal baru itu akan merusak
tatanan hidup mereka yang sudah mereka miliki secara turun-temurun.
6. Sikap
etnosentrisme.
Sikap etnosentrisme adalah sikap mengagungkan
budaya suku bangsanya sendiri dan menganggap rendah budaya suku bangsa lain.
Sikap semacam ini akan mudah memicu timbulnya kasus-kasus sara, yakni
pertentangan suku, agama, ras, dan antar golongan. Sikap ini dapat menimbulkan
kecenderungan perpecahan dengan sikapa kelakuan yang lebih tinggi terhadap
budaya lain.
7. Perkembangan IPTEK sebgai hasil dari
kebudayaan, sering kali disalhagunakan oleh manusia, sebagai contoh nuklir dan
bom dibuat justru untuk menghancurkan manusia bukan untuk melestarikan suatu
generasi, obat-obatan diciptakan untuk kesehatan tetapi pengunaannya banyak
disalhgunkan yang justru mengganggu kesehatan manusia.
BAB III
PENUTUP,
KESIMPULAN DAN SARAN
3.1
Kesimpulan
Manusia merupakan salah satu atau satu – satunya dari mahluk
ciptaan Tuhan yang dikaruniani akal dan pikiran sehingga dapat digunakan untuk
mengembangkan pengetauhan yang pada akhirnya dapat melahirkan suatu kebudayaan.
Sedangkan kebudayaan merupakan hasil dari budi dan daya dari manusia yang
berkembang dan diikuti oleh masyarakat tertentu sehingga antara masyarakat satu
dan yang lain memiliki kebudayaan yang berbeda.
Manusia di dalam budaya tersebut memiliki kedudukan tertentu yang
didikuti oleh nilai – nilai etika dan estetika yang luhur yang dapat
menimbulkan suatu keindahan tertentu. Budaya sangat berpengaruh dan bermanfaat
dalam kehidupan manusia baik itu secara individu maupun secara lintas budaya.
3.2 Saran
1. Memperbanyak membaca buku
– buku yang relevan mengenai media dan sumber pembelajaran.
2. Membaca dengan cermat dan
teliti disetiap pokok bahasan sehingga dapat menimbulkan suatu pemahaman.
3. Khususnya bagi generasi
muda adalah calon sarjana, jadi anda harus mempunyai wawasan yang luas dan
berintelektual tinggi.
DAFTAR PUSTAKA
Alisyahbana,
Sultan Takdir, Prof. Dr S.H., 1981. Kebudayaan sdan peradaban. Bahan Penataran
Pengajar Ilmu Sosial dan Budaya Dasar Wilayah Indonesia Barat di Bukit
Tinggi.
Dra. Elly M. Setiady, M.Si, Drs. H. Kama A. Hakam, M.Pd. 2008. Ilmu Sosial dan Budaya Dasar. Jakarta: Kencana.
A.A. Sitompul.1993. Manusia
dan Budaya, Jakarta: Gunung Mulia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar