MAKALAH
ROBOK-ROBOK
MATA
KULIAH : Pendidikan Multikultural
DOSEN :
Drs. Sugiyono, M.Si
DISUSUN OLEH :
SITI MAISYARAH
(F1082131027)

PENDIDIKAN
GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS
KEGURUAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
TANJUNGPURA
PONTIANAK
2O14
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Indonesia adalah
negara yang kaya akan kebudayaan, tradisi serta adat istiadat yang mana sampai
sekarang masih dipertahankan. Salah satunya yaitu tradisi robok-robok yang mana
sampai sekarang masih dilakukan oleh masyarakat kalimantan barat, terutama
masyarakat mempawah, kabupaten pontianak, dikecamatan kakap kabupaten
pontianak, dan kabupaten ketapang kalimantan barat. Acara robok-robok juga
diisi dengan kegiatan lainnya, seperti lomba sampan, permainan gasing, lomba
kasidah, makan saprah dan hiburan masyarakat.
B. Rumusan Masalah
1.
Bagaimana Sejarah Robok-robok?
2.
Bagaimana keistimewaan Robok-robok?
3.
Apa itu tradisi robok-robok?
4.
Apa tujuan dan manfaat tradisi robok-robok?
5.
Apakah robok-robok aset wisata masyarakat mempawah?
C.
Tujuan
1.
Mengetahui
sejarah robok-robok.
2.
Mengetahui
keistimewaan robok-robok.
3.
Mengetahui tentang tradisi robok-robok.
4.
Mengetahui
tujuan dan manfaat tradisi robok-robok.
5.
Mengetahui
bahwa robok-robok adalah aset wisata masyarakat mempawah
BAB II
PEMBAHASAN
A. Sejarah Robok-robok
Awal diperingatinya Robok-robok ini sendiri, bermula dengan kedatangan
rombongan Opu Daeng Manambon dan Putri Kesumba yang merupakan cucu Panembahan
Mempawah kala itu yakni, Panembahan Senggaok yang merupakan keturunan Raja
Patih Gumantar dari Kerajaan Bangkule Rajangk Mempawah pada tahun 1148 Hijriah
atau 1737 Masehi. Masuknya Opu Daeng Manambon dan istrinya Putri Kesumba ke
Mempawah, bermaksud menerima kekuasaan dari Panembahan Putri Cermin kepada
Putri Kesumba yang bergelar Ratu Agung Sinuhun bersama suaminya, Opu Daeng
Manambon yang selanjutnya bergelar Pangeran Mas Surya Negara sebagai pejabat
raja dalam Kerajaan Bangkule Rajangk.
Berlayarnya Opu Daeng Manambon dari Kerajaan Matan Sukadana (Kabupaten
Ketapang) diiringi sekitar 40 perahu. Saat masuk di Muara Kuala Mempawah,
rombongan disambut dengan suka cita oleh masyarakat Mempawah. Penyambutan itu
dilakukan dengan memasang berbagai kertas dan kain warna warni di rumah-rumah
penduduk yang berada di pinggir sungai. Bahkan, beberapa warga pun menyongsong
masuknya Opu Daeng Manambon ke Sungai Mempawah dengan menggunakan sampan.
Terharu karena melihat sambutan rakyat Mempawah yang cukup meriah, Opu
Daeng Manambon pun memberikan bekal makanannya kepada warga yang berada di
pinggir sungai untuk dapat dinikmati mereka juga. Karena saat kedatangannya
bertepatan dengan hari Minggu terakhir bulan Syafar, lantas rombongan tersebut
menyempatkan diri turun di Kuala Mempawah. Selanjutnya Opu Daeng Manambon yang
merupakan keturunan dari Kerajaan Luwu Sulawesi Selatan, berdoa bersama dengan
warga yang menyambutnya, mohon keselamatan kepada Allah agar dijauhkan dari
bala dan petaka. Usai melakukan doa, kemudian dilanjutkan dengan makan bersama.
Prosesi itulah yang kemudian dijadikan sebagai awal digelarnya hari Robok-robok,
yang saban tahun rutin dilakukan warga Mempawah, dengan melakukan makan di luar
rumah bersama sanak saudara dan tetangga.
Bagi sebagian masyarakat di beberapa daerah di Indonesia, bulan Safar
diyakini sebagai bulan naas dan sial. Sang Pencipta dipercayai menurunkan
berbagai malapetaka pada bulan Safar. Oleh sebab itu, masyarakat yang
meyakininya akan menggelar ritual khusus agar terhindar dari “kemurkaan” bulan
Safar. Ritual tersebut juga dimaksudkan sebagai penghormatan terhadap arwah
leluhur.
Namun pandangan di atas berbeda dengan pandangan masyarakat Kota Mempawah
yang menganggap bulan Safar sebagai “bulan keberkahan” dan kedatangannya
senantiasa dinanti-nantikan. Karena pada bulan Safar terjadi peristiwa penting
yang sangat besar artinya bagi masyarakat Kota Mempawah hingga saat ini.
Peristiwa penting tersebut kemudian diperingati dengan menggelar Ritual Robok-robok.
Dinamakan Robok-robok karena ritual ini digelar setiap hari Rabu terakhir
bulan Safar menurut penanggalan Hijriah. Tujuan digelarnya ritual ini adalah
untuk memperingati kedatangan dan/atau napak tilas perjalanan Opu Daeng
Menambon yang bergelar Pangeran Mas Surya Negara dari Kerajaan Matan,
Martapura, Kabupaten Ketapang, ke Kerajaan Mempawah, Kabupaten Pontianak, pada
tahun 1737 M/1448 H.
Opu Daeng Menambon adalah putra ketiga Opu Daeng Rilekke yang terkenal
sebagai pelaut handal dan gemar sekali melakukan perjalanan ke berbagai daerah
di Nusantara bersama dengan anak-anaknya. Opu Daeng Rilekke sendiri adalah
putra ketiga Sultan La Madusalat dari Kesultanan Luwuk, Bone, Sulawesi Selatan,
yang telah menjadi Kesultanan Islam sejak tahun 1398 M. Opu Daeng Menambon
beserta keluarganya pindah dari Kerajaan Matan ke Kerajaan Mempawah atas
permintaan Panembahan Senggauk, Raja Mempawah waktu itu. Setelah Panembahan
Senggauk mangkat, Opu Daeng Menambon naik tahta. Beliau berkuasa di sana
sekitar 26 tahun, yakni dari tahun 1740 M sampai beliau wafat pada tahun 1766
M.
B. Keistimewaan Robok-robok
Sebagai sebuah
peristiwa budaya, Ritual Robok-robok sarat dengan simbol-simbol yang mengandung
nilai-nilai historis dan kultural. Ritual Robok-robok merupakan napak tilas
kedatangan Opu Daeng Menambon beserta pengikutnya dari Kerajaan Matan ke
Kerajaan Mempawah yang konon menggunakan 40 Perahu Bidar. Kedatangan Opu Daeng
Menambon beserta pengikutnya ini menjadi cikal-bakal masuk dan berkembangnya
agama Islam ke Kota Mempawah. Perlahan-lahan, proses islamisasi pun terjadi dan
puncaknya adalah beralihnya Kerajaan Mempawah yang semula beragama Hindu
menjadi kerajaan bercorak Islam.
Pengumandangan
azan dan pembacaan doa yang dilakukan oleh Pemangku Adat Istana Amantubillah
sebelum dimulainya Ritual Buang-buang menandakan bahwa dalam prosesi Ritual
Robok-robok juga terdapat nilai-nilai religius. Sesajennya yang terdiri dari
beras kuning, bertih, dan setanggi pun sarat dengan makna-makna tertentu. Nasi
kuning dan bertih melambangkan kemakmuran dan kesejahteraan, sedangkan setanggi
mengandung makna keberkahan. Dalam Ritual Buang-buang tidak semata-mata
penghormatan dan pengakuan terhadap keberadaan sungai dan laut sebagai salah
satu sumber penghidupan masyarakat, tapi juga tersirat keinginan untuk hidup
selaras dengan alam sekitar.
Ritual ini
biasanya dimulai selepas shalat Zuhur, di mana raja Istana Amantubillah beserta
para petinggi istana bertolak dari Desa Benteng menggunakan Perahu Lancang
Kuning dan Perahu Bidar. Perahu Lancang Kuning khusus digunakan oleh raja,
sedangkan Perahu Bidar diperuntukan bagi petinggi istana. Mereka akan berlayar
selama satu jam menuju muara Kuala/Sungai Mempawah yang terletak di Desa Kuala
Mempawah, Kabupaten Pontianak, Provinsi Kalimantan Barat. Sesampainya di muara
Sungai Mempawah, seorang kerabat istana yang menjabat Pemangku Adat
mengumandangkan azan dan membaca doa talak bala (talak balak). Kemudian
dilanjutkan dengan Ritual Buang-buang, yaitu melempar sesajen ke Sungai
Mempawah. Setelah itu, raja beserta para petinggi istana merapat ke tepi Sungai
Mempawah untuk bersiap-siap melaksanakan Makan Saprahan di halaman depan Istana
Amantubillah. Gambaran di atas merupakan sebagian dari rangkaian prosesi Ritual
Robok-robok.
Kebersamaan dan
silaturahmi antar berbagai elemen masyarakat adalah nilai-nilai lain yang
terkandung dalam prosesi Ritual Robok-robok. Hal ini, misalnya, terlihat pada
kegiatan Makan Saprahan. Makan Saprahan adalah makan bersama-sama di halaman
depan Istana Amantubillah menggunakan baki atau talam. Setiap baki/talam
(saprah) yang berisi nasi dan lauk biasanya diperuntukan bagi empat atau lima
orang. Dalam Makan Saprahan keakraban terjalin, suasana mencair, dan
sekat-sekat melebur jadi satu. Pada saat makan, tidak lagi dipersoalkan status,
agama, dan asal-usul seseorang.
Hal lain yang
tak kalah menariknya dalam Ritual Robok-robok adalah dihidangkannya berbagai
masakan khas istana dan daerah setempat yang mungkin tidak lagi populer di
tengah-tengah masyarakat, seperti lauk opor ayam putih, sambal serai udang,
selada timun, ikan masak asam pedas, dan sop ayam putih. Sebagai penganan
pencuci mulut disuguhkan kue sangon, kue jorong, bingke ubi, putuh buloh, dan
pisang raja. Sementara untuk minumnya, disediakan air serbat yang berkhasiat
memulihkan stamina.
Untuk
memeriahkan Ritual Robok-robok, biasanya ditampilkan aneka hiburan tradisional
masyarakat setempat, seperti tundang (pantun berdendang), japin, dan lomba
perahu bidar.
C. Pengertian adat istiadar dan
tradisi Robo-robo
Ttradisi adalah sebuah
kebiasaan atau perilaku yang dilakukan oleh masyarakat secara turun temurun dari
nenek moyang didaerahnya. Tradisi dan budaya juga merupakan beberapa hal yang
menjadi sumber dari akhlak dan budi pekerti. Sedangkan adat istiadat adalah
merupakan sebuah wujud dari rasa daya cipta suatu bangsa begitu juga adat
budaya yang masih tetap ada di wilayah Kalimantan Barat sebagai sebuah wilayah
yang cukup luas yang ada di Indonesia, diantara provinsi Kalimantan Barat
meliputi beberapa kabupaten yang mempunyai adat istiadat yang multikultural,
dan masih tetap eksis mempertahankan adat istiadat masyarakatnya. Seperti tradisi Robo’-Robo’ yang dikenal sebagai tradisi yang memperingati
hari datangnya seseorang dari tanah bugis Sulawesi Selatan pada tahun 1637.
Kedatangan Raja Mempawah, Opu Daeng Manambon dari Bone, Sulawesi Selatan di
abad ke-17 diabadikan dalam tradisi Robo’-Robo’. Upacara sakral yang sering
dilakukan adalah berupa wujud dari rasa syukur atas karunia yang diberikan dan
sekaligus memohon keselamatan, hal ini masih terus berlangsung secara terus
menerus bagi masyarakat pendukungnya.
D. Tujuan dan manfaat dari tradisi robo-robo
Robo-robo pertamakali
dilakukan pada tahun 1148 Hijriah atau 1737 Masehi bermula dengan kedatangan
rombongan Opu Daeng Manambon dan Putri Kesumba yang merupakan cucu Panembahan
Mempawah kala itu yakni, Panembahan Senggaok yang merupakan keturunan Raja
Patih Gumantar dari Kerajaan Bangkule Rajangk, selain dari wujud dan rasa
syukur atas karunia yang diberikan dan sekaligus memohon keselamatan,memohon
ampun,pemujaan dan penghormatan kepada leluhur. robo-robo juga bertujuan untuk
untuk menggali hubungan antara nilai-nilai budaya dan nilai-nilai sosial
kemasyarakatan, seperti terciptanya rasa kebersamaan antara raja dengan
rakyatnya, para petinggi dan bawahan, orang kaya dengan orang miskin dan lain
sebagainya, secara tidak langsung tercipta sebuah jalinan komunikasi antara
satu dengan yang lainnya.
E. Robo-Robo, Aset Wisata Budaya Mempawah
Pontianak, sebagai kota terbesar di provinsi Kalimantan Barat, kota ini
memiliki berbagai tujuan pariwisata yang berpotensi tinggi. Dengan Mempawah
sebagai ibukota provinsinya, Pontianak juga terkenal sebagai Kota Katulistiwa
dan juga dilalui Sungai Kapuas sebagai sungai terpanjang di Indonesia.
Pontianak juga terkenal dengan kekayaan kulinernya. Namun di Mempawah,
terdapat sebuah aset wisata budaya yang telah menjadi salah satu kalender
wisata nasional. Perayaan Robok-Robok (yang kadang dieja Robok-Robok), adalah
adat masyarakat Mempawah yang saat ini tidak hanya dikenal oleh turis domestik
namun juga turis-turis asing.
Perayaan ini digelar setiap hari Rabu di minggu terakhir bulan Safar
menurut penanggalan Hijiriah, maka dari itu dinamakan Robok-Robok. Biasanya
ritual ini dimulai selepas shalat Zuhur, dan bagi masyarakat Kota Mempawah,
bulan Safar dianggap sebagai “bulan keberkahan” dan kedatangannya senantiasa
dinanti-nantikan.
Perayaan Robok-Robok ini merupakan napak tilas kedatangan Ompu Daeng
Menambon dari Kerajaan Matan ke Kerajaan Mempawah yang konon menggunakan 40
perahu Bidar. Perayaan ini menjadi penting karena kedatangan Ompu Daeng
Menambon menjadi cikal-bakal masuk dan berkembangnya Islam ke Kota Mempawah.
Puncak dari islamisasi pun terjadi saat adanya peralihan di Kerajaan Mempawah
yang semula beragama Hindu menjadi kerjaan bercorak Islam. Pada bulan Safar
tahun 1148 Hijiriah itulah, masyarakat Mempawah kedatangan rombongan tersebut.
Sesampainya di Kuala Mempawah, Ompu Daeng Manambon yang merupakan keturunan
dari Kerajaan Luwu Sulawesi Selatan, berdoa bersama dengan warga yang
menyambutnya, mohon keselamatan kepada Allah agar dijauhkan dari bala dan
petaka. Usai melakukan doa, kemudian dilanjutkan dengan makan bersama. Prosesi
itulah yang kemudian dijadikan sebagai awal digelarnya hari Robok-robok, dengan
melakukan makan di luar rumah bersama sanak saudara dan tetangga.
Salah satu kegiatan dalam rentetan ritual Robok-robok adalah Makan Sapraha.
Yaitu, makan bersama-sama di halaman depan Istana Amantubillah menggunakan baki
atau talam. Setiap baki/talam (saprah) yang berisi nasi dan lauk biasanya
diperuntukan bagi empat atau lima orang. Setiap elemen masyarakat boleh
bergabung di dalamnya. Pada saat makan, tidak lagi dipersoalkan status, agama,
dan asal-usul seseorang.
Dalam Makan Sapraha, disediakan masakan khas istana dan daerah setempat,
seperti lauk opor ayam putih, sambal serai udang, selada timun, ikan masak asam
pedas, dan sop ayam putih. Sebagai penganan pencuci mulut disuguhkan kue
sangon, kue jorong, bingke ubi, putuh buloh, dan pisang raja. Sementara untuk
minumnya, disediakan air serbat yang berkhasiat memulihkan stamina.
Sebelumnya, dilakukan Ritual Buang-buang, yaitu melempar sesajen ke Sungai
Mempawah, disertai dengan pengumandangan azan dan pembacaan doa yang dilakukan
oleh Pemangku Adat Istana. Sesajen terdiri dari beras kuning, bertih, dan
setanggi. Ritual yang melambangkan kemakmuran, kesejahtaeraan, dan keberkahan
ini dilakukan sebagai wujud penghormatan dan pengakuan terhadap keberadaan
sungai dan laut sebagai salah satu sumber penghidupan masyarakat, sera
keinginan untuk hidup selaras dengan alam sekitar.
Untuk memeriahkan Ritual Robok-robok, biasanya ditampilkan aneka hiburan
tradisional masyarakat setempat, seperti tundang (pantun berdendang), japin,
dan lomba perahu bidar.
Lokasi prosesi Ritual Robo-robo tersebar di beberapa tempat di Kota
Mempawah, seperti di muara Sungai Mempawah di Desa Kuala Mempawah, Istana
Amantubillah dan Kompleks Pemakaman Sultan-sultan Mempawah di Kelurahan Pulau
Pedalaman, serta Makam Ompu Daeng Menambon di Sebukit Rama, Kabupaten
Pontianak, Provinsi Kalimantan Barat, Indonesia. Tidak ada pungutan biaya bagi
wisatawan yang ingin menyaksikan kebudayaan ini.
Opu Daeng Menambon adalah putra ketiga Opu Daeng Rilekke yang terkenal
sebagai pelaut handal dan gemar sekali melakukan perjalanan ke berbagai daerah
di Nusantara bersama dengan anak-anaknya. Opu Daeng Rilekke sendiri adalah
putra ketiga Sultan La Madusalat dari Kesultanan Luwuk, Bone, Sulawesi Selatan,
yang telah menjadi Kesultanan Islam sejak tahun 1398 M. Opu Daeng Menambon
beserta keluarganya pindah dari Kerajaan Matan ke Kerajaan Mempawah atas
permintaan Panembahan Senggauk, Raja Mempawah waktu itu. Setelah Panembahan
Senggauk mangkat, Opu Daeng Menambon naik tahta. Beliau berkuasa di sana
sekitar 26 tahun, yakni dari tahun 1740 M sampai beliau wafat pada tahun 1766
M.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Budaya dan adat
istiadat serta tradisi merupakan suaktu kebiasaan yang dilakukan secara turun
temurun salah satunya seperti robo-robo yang sampai sekarang masih dilakukan
masyarakat dikalimantan barat yang bertujuan untuk ucapan rasa sukur atas
anugrah dan karunia tuhan serta untuk menghormati para leluhur dan untuk
menjalin silaturahmi antar sesama.
Perayaan
Robo-Robo ini merupakan napak tilas kedatangan Ompu Daeng Menambon dari
Kerajaan Matan ke Kerajaan Mempawah yang konon menggunakan 40 perahu Bidar. Perayaan
ini menjadi penting karena kedatangan Ompu Daeng Menambon menjadi cikal-bakal
masuk dan berkembangnya Islam ke Kota Mempawah. Puncak dari islamisasi pun
terjadi saat adanya peralihan di Kerajaan Mempawah yang semula beragama Hindu
menjadi kerjaan bercorak Islam. Pada bulan Safar tahun 1148 Hijiriah itulah,
masyarakat Mempawah kedatangan rombongan tersebut.
B. Saran
Alangkah baiknya dalam
melakukan adat istiadat atau tradisi kita tidak menyimpang dari ajaran-ajaran
agama,seperti sirik dan mubajir dan lainnya yang keluar dari konsep ajaran
agama.
DAFTAR PUSTAKA
http://longsani.blogspot.com/2014/07/makalah-robo-robo.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar