mtma

mtma
mtma

Rabu, 03 Juni 2015

ROBOK-ROBOK

MAKALAH
ROBOK-ROBOK
MATA KULIAH : Pendidikan Multikultural
 DOSEN :  Drs. Sugiyono, M.Si

DISUSUN OLEH :

SITI MAISYARAH
(F1082131027)

index.jpg


PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS KEGURUAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS TANJUNGPURA
PONTIANAK
2O14



BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang

Indonesia adalah negara yang kaya akan kebudayaan, tradisi serta adat istiadat yang mana sampai sekarang masih dipertahankan. Salah satunya yaitu tradisi robok-robok yang mana sampai sekarang masih dilakukan oleh masyarakat kalimantan barat, terutama masyarakat mempawah, kabupaten pontianak, dikecamatan kakap kabupaten pontianak, dan kabupaten ketapang kalimantan barat. Acara robok-robok juga diisi dengan kegiatan lainnya, seperti lomba sampan, permainan gasing, lomba kasidah, makan saprah dan hiburan masyarakat.


B.  Rumusan Masalah

1.    Bagaimana Sejarah Robok-robok?
2.    Bagaimana keistimewaan Robok-robok?
3.    Apa itu tradisi robok-robok?
4.    Apa tujuan dan manfaat tradisi robok-robok?
5.    Apakah robok-robok aset wisata masyarakat mempawah?


C.  Tujuan

1.    Mengetahui sejarah robok-robok.
2.    Mengetahui keistimewaan robok-robok.
3.    Mengetahui tentang tradisi robok-robok.
4.    Mengetahui tujuan dan manfaat tradisi robok-robok.
5.    Mengetahui bahwa robok-robok adalah aset wisata masyarakat mempawah


BAB II
PEMBAHASAN

A.  Sejarah Robok-robok

Awal diperingatinya Robok-robok ini sendiri, bermula dengan kedatangan rombongan Opu Daeng Manambon dan Putri Kesumba yang merupakan cucu Panembahan Mempawah kala itu yakni, Panembahan Senggaok yang merupakan keturunan Raja Patih Gumantar dari Kerajaan Bangkule Rajangk Mempawah pada tahun 1148 Hijriah atau 1737 Masehi. Masuknya Opu Daeng Manambon dan istrinya Putri Kesumba ke Mempawah, bermaksud menerima kekuasaan dari Panembahan Putri Cermin kepada Putri Kesumba yang bergelar Ratu Agung Sinuhun bersama suaminya, Opu Daeng Manambon yang selanjutnya bergelar Pangeran Mas Surya Negara sebagai pejabat raja dalam Kerajaan Bangkule Rajangk.
Berlayarnya Opu Daeng Manambon dari Kerajaan Matan Sukadana (Kabupaten Ketapang) diiringi sekitar 40 perahu. Saat masuk di Muara Kuala Mempawah, rombongan disambut dengan suka cita oleh masyarakat Mempawah. Penyambutan itu dilakukan dengan memasang berbagai kertas dan kain warna warni di rumah-rumah penduduk yang berada di pinggir sungai. Bahkan, beberapa warga pun menyongsong masuknya Opu Daeng Manambon ke Sungai Mempawah dengan menggunakan sampan.
Terharu karena melihat sambutan rakyat Mempawah yang cukup meriah, Opu Daeng Manambon pun memberikan bekal makanannya kepada warga yang berada di pinggir sungai untuk dapat dinikmati mereka juga. Karena saat kedatangannya bertepatan dengan hari Minggu terakhir bulan Syafar, lantas rombongan tersebut menyempatkan diri turun di Kuala Mempawah. Selanjutnya Opu Daeng Manambon yang merupakan keturunan dari Kerajaan Luwu Sulawesi Selatan, berdoa bersama dengan warga yang menyambutnya, mohon keselamatan kepada Allah agar dijauhkan dari bala dan petaka. Usai melakukan doa, kemudian dilanjutkan dengan makan bersama. Prosesi itulah yang kemudian dijadikan sebagai awal digelarnya hari Robok-robok, yang saban tahun rutin dilakukan warga Mempawah, dengan melakukan makan di luar rumah bersama sanak saudara dan tetangga.
Bagi sebagian masyarakat di beberapa daerah di Indonesia, bulan Safar diyakini sebagai bulan naas dan sial. Sang Pencipta dipercayai menurunkan berbagai malapetaka pada bulan Safar. Oleh sebab itu, masyarakat yang meyakininya akan menggelar ritual khusus agar terhindar dari “kemurkaan” bulan Safar. Ritual tersebut juga dimaksudkan sebagai penghormatan terhadap arwah leluhur.
Namun pandangan di atas berbeda dengan pandangan masyarakat Kota Mempawah yang menganggap bulan Safar sebagai “bulan keberkahan” dan kedatangannya senantiasa dinanti-nantikan. Karena pada bulan Safar terjadi peristiwa penting yang sangat besar artinya bagi masyarakat Kota Mempawah hingga saat ini. Peristiwa penting tersebut kemudian diperingati dengan menggelar Ritual Robok-robok.
Dinamakan Robok-robok karena ritual ini digelar setiap hari Rabu terakhir bulan Safar menurut penanggalan Hijriah. Tujuan digelarnya ritual ini adalah untuk memperingati kedatangan dan/atau napak tilas perjalanan Opu Daeng Menambon yang bergelar Pangeran Mas Surya Negara dari Kerajaan Matan, Martapura, Kabupaten Ketapang, ke Kerajaan Mempawah, Kabupaten Pontianak, pada tahun 1737 M/1448 H.
Opu Daeng Menambon adalah putra ketiga Opu Daeng Rilekke yang terkenal sebagai pelaut handal dan gemar sekali melakukan perjalanan ke berbagai daerah di Nusantara bersama dengan anak-anaknya. Opu Daeng Rilekke sendiri adalah putra ketiga Sultan La Madusalat dari Kesultanan Luwuk, Bone, Sulawesi Selatan, yang telah menjadi Kesultanan Islam sejak tahun 1398 M. Opu Daeng Menambon beserta keluarganya pindah dari Kerajaan Matan ke Kerajaan Mempawah atas permintaan Panembahan Senggauk, Raja Mempawah waktu itu. Setelah Panembahan Senggauk mangkat, Opu Daeng Menambon naik tahta. Beliau berkuasa di sana sekitar 26 tahun, yakni dari tahun 1740 M sampai beliau wafat pada tahun 1766 M.

B.  Keistimewaan Robok-robok

Sebagai sebuah peristiwa budaya, Ritual Robok-robok sarat dengan simbol-simbol yang mengandung nilai-nilai historis dan kultural. Ritual Robok-robok merupakan napak tilas kedatangan Opu Daeng Menambon beserta pengikutnya dari Kerajaan Matan ke Kerajaan Mempawah yang konon menggunakan 40 Perahu Bidar. Kedatangan Opu Daeng Menambon beserta pengikutnya ini menjadi cikal-bakal masuk dan berkembangnya agama Islam ke Kota Mempawah. Perlahan-lahan, proses islamisasi pun terjadi dan puncaknya adalah beralihnya Kerajaan Mempawah yang semula beragama Hindu menjadi kerajaan bercorak Islam.
Pengumandangan azan dan pembacaan doa yang dilakukan oleh Pemangku Adat Istana Amantubillah sebelum dimulainya Ritual Buang-buang menandakan bahwa dalam prosesi Ritual Robok-robok juga terdapat nilai-nilai religius. Sesajennya yang terdiri dari beras kuning, bertih, dan setanggi pun sarat dengan makna-makna tertentu. Nasi kuning dan bertih melambangkan kemakmuran dan kesejahteraan, sedangkan setanggi mengandung makna keberkahan. Dalam Ritual Buang-buang tidak semata-mata penghormatan dan pengakuan terhadap keberadaan sungai dan laut sebagai salah satu sumber penghidupan masyarakat, tapi juga tersirat keinginan untuk hidup selaras dengan alam sekitar.
Ritual ini biasanya dimulai selepas shalat Zuhur, di mana raja Istana Amantubillah beserta para petinggi istana bertolak dari Desa Benteng menggunakan Perahu Lancang Kuning dan Perahu Bidar. Perahu Lancang Kuning khusus digunakan oleh raja, sedangkan Perahu Bidar diperuntukan bagi petinggi istana. Mereka akan berlayar selama satu jam menuju muara Kuala/Sungai Mempawah yang terletak di Desa Kuala Mempawah, Kabupaten Pontianak, Provinsi Kalimantan Barat. Sesampainya di muara Sungai Mempawah, seorang kerabat istana yang menjabat Pemangku Adat mengumandangkan azan dan membaca doa talak bala (talak balak). Kemudian dilanjutkan dengan Ritual Buang-buang, yaitu melempar sesajen ke Sungai Mempawah. Setelah itu, raja beserta para petinggi istana merapat ke tepi Sungai Mempawah untuk bersiap-siap melaksanakan Makan Saprahan di halaman depan Istana Amantubillah. Gambaran di atas merupakan sebagian dari rangkaian prosesi Ritual Robok-robok.
Kebersamaan dan silaturahmi antar berbagai elemen masyarakat adalah nilai-nilai lain yang terkandung dalam prosesi Ritual Robok-robok. Hal ini, misalnya, terlihat pada kegiatan Makan Saprahan. Makan Saprahan adalah makan bersama-sama di halaman depan Istana Amantubillah menggunakan baki atau talam. Setiap baki/talam (saprah) yang berisi nasi dan lauk biasanya diperuntukan bagi empat atau lima orang. Dalam Makan Saprahan keakraban terjalin, suasana mencair, dan sekat-sekat melebur jadi satu. Pada saat makan, tidak lagi dipersoalkan status, agama, dan asal-usul seseorang.
Hal lain yang tak kalah menariknya dalam Ritual Robok-robok adalah dihidangkannya berbagai masakan khas istana dan daerah setempat yang mungkin tidak lagi populer di tengah-tengah masyarakat, seperti lauk opor ayam putih, sambal serai udang, selada timun, ikan masak asam pedas, dan sop ayam putih. Sebagai penganan pencuci mulut disuguhkan kue sangon, kue jorong, bingke ubi, putuh buloh, dan pisang raja. Sementara untuk minumnya, disediakan air serbat yang berkhasiat memulihkan stamina.
Untuk memeriahkan Ritual Robok-robok, biasanya ditampilkan aneka hiburan tradisional masyarakat setempat, seperti tundang (pantun berdendang), japin, dan lomba perahu bidar.


C.  Pengertian adat istiadar dan tradisi Robo-robo

Ttradisi adalah sebuah kebiasaan atau perilaku yang dilakukan oleh masyarakat secara turun temurun dari nenek moyang didaerahnya. Tradisi dan budaya juga merupakan beberapa hal yang menjadi sumber dari akhlak dan budi pekerti. Sedangkan adat istiadat adalah merupakan sebuah wujud dari rasa daya cipta suatu bangsa begitu juga adat budaya yang masih tetap ada di wilayah Kalimantan Barat sebagai sebuah wilayah yang cukup luas yang ada di Indonesia, diantara provinsi Kalimantan Barat meliputi beberapa kabupaten yang mempunyai adat istiadat yang multikultural, dan masih tetap eksis mempertahankan adat istiadat masyarakatnya. Seperti tradisi Robo’-Robo’ yang dikenal sebagai tradisi yang memperingati hari datangnya seseorang dari tanah bugis Sulawesi Selatan pada tahun 1637. Kedatangan Raja Mempawah, Opu Daeng Manambon dari Bone, Sulawesi Selatan di abad ke-17 diabadikan dalam tradisi Robo’-Robo’. Upacara sakral yang sering dilakukan adalah berupa wujud dari rasa syukur atas karunia yang diberikan dan sekaligus memohon keselamatan, hal ini masih terus berlangsung secara terus menerus bagi masyarakat pendukungnya.

D.  Tujuan dan manfaat dari tradisi robo-robo

Robo-robo pertamakali dilakukan pada tahun 1148 Hijriah atau 1737 Masehi bermula dengan kedatangan rombongan Opu Daeng Manambon dan Putri Kesumba yang merupakan cucu Panembahan Mempawah kala itu yakni, Panembahan Senggaok yang merupakan keturunan Raja Patih Gumantar dari Kerajaan Bangkule Rajangk, selain dari wujud dan rasa syukur atas karunia yang diberikan dan sekaligus memohon keselamatan,memohon ampun,pemujaan dan penghormatan kepada leluhur. robo-robo juga bertujuan untuk untuk menggali hubungan antara nilai-nilai budaya dan nilai-nilai sosial kemasyarakatan, seperti terciptanya rasa kebersamaan antara raja dengan rakyatnya, para petinggi dan bawahan, orang kaya dengan orang miskin dan lain sebagainya, secara tidak langsung tercipta sebuah jalinan komunikasi antara satu dengan yang lainnya.

E.   Robo-Robo, Aset Wisata Budaya Mempawah

Pontianak, sebagai kota terbesar di provinsi Kalimantan Barat, kota ini memiliki berbagai tujuan pariwisata yang berpotensi tinggi. Dengan Mempawah sebagai ibukota provinsinya, Pontianak juga terkenal sebagai Kota Katulistiwa dan juga dilalui Sungai Kapuas sebagai sungai terpanjang di Indonesia.
Pontianak juga terkenal dengan kekayaan kulinernya. Namun di Mempawah, terdapat sebuah aset wisata budaya yang telah menjadi salah satu kalender wisata nasional. Perayaan Robok-Robok (yang kadang dieja Robok-Robok), adalah adat masyarakat Mempawah yang saat ini tidak hanya dikenal oleh turis domestik namun juga turis-turis asing.
Perayaan ini digelar setiap hari Rabu di minggu terakhir bulan Safar menurut penanggalan Hijiriah, maka dari itu dinamakan Robok-Robok. Biasanya ritual ini dimulai selepas shalat Zuhur, dan bagi masyarakat Kota Mempawah, bulan Safar dianggap sebagai “bulan keberkahan” dan kedatangannya senantiasa dinanti-nantikan.
Perayaan Robok-Robok ini merupakan napak tilas kedatangan Ompu Daeng Menambon dari Kerajaan Matan ke Kerajaan Mempawah yang konon menggunakan 40 perahu Bidar. Perayaan ini menjadi penting karena kedatangan Ompu Daeng Menambon menjadi cikal-bakal masuk dan berkembangnya Islam ke Kota Mempawah. Puncak dari islamisasi pun terjadi saat adanya peralihan di Kerajaan Mempawah yang semula beragama Hindu menjadi kerjaan bercorak Islam. Pada bulan Safar tahun 1148 Hijiriah itulah, masyarakat Mempawah kedatangan rombongan tersebut.
Sesampainya di Kuala Mempawah, Ompu Daeng Manambon yang merupakan keturunan dari Kerajaan Luwu Sulawesi Selatan, berdoa bersama dengan warga yang menyambutnya, mohon keselamatan kepada Allah agar dijauhkan dari bala dan petaka. Usai melakukan doa, kemudian dilanjutkan dengan makan bersama. Prosesi itulah yang kemudian dijadikan sebagai awal digelarnya hari Robok-robok, dengan melakukan makan di luar rumah bersama sanak saudara dan tetangga.
Salah satu kegiatan dalam rentetan ritual Robok-robok adalah Makan Sapraha. Yaitu, makan bersama-sama di halaman depan Istana Amantubillah menggunakan baki atau talam. Setiap baki/talam (saprah) yang berisi nasi dan lauk biasanya diperuntukan bagi empat atau lima orang. Setiap elemen masyarakat boleh bergabung di dalamnya. Pada saat makan, tidak lagi dipersoalkan status, agama, dan asal-usul seseorang.
Dalam Makan Sapraha, disediakan masakan khas istana dan daerah setempat, seperti lauk opor ayam putih, sambal serai udang, selada timun, ikan masak asam pedas, dan sop ayam putih. Sebagai penganan pencuci mulut disuguhkan kue sangon, kue jorong, bingke ubi, putuh buloh, dan pisang raja. Sementara untuk minumnya, disediakan air serbat yang berkhasiat memulihkan stamina.
Sebelumnya, dilakukan Ritual Buang-buang, yaitu melempar sesajen ke Sungai Mempawah, disertai dengan pengumandangan azan dan pembacaan doa yang dilakukan oleh Pemangku Adat Istana. Sesajen terdiri dari beras kuning, bertih, dan setanggi. Ritual yang melambangkan kemakmuran, kesejahtaeraan, dan keberkahan ini dilakukan sebagai wujud penghormatan dan pengakuan terhadap keberadaan sungai dan laut sebagai salah satu sumber penghidupan masyarakat, sera keinginan untuk hidup selaras dengan alam sekitar.
Untuk memeriahkan Ritual Robok-robok, biasanya ditampilkan aneka hiburan tradisional masyarakat setempat, seperti tundang (pantun berdendang), japin, dan lomba perahu bidar.
Lokasi prosesi Ritual Robo-robo tersebar di beberapa tempat di Kota Mempawah, seperti di muara Sungai Mempawah di Desa Kuala Mempawah, Istana Amantubillah dan Kompleks Pemakaman Sultan-sultan Mempawah di Kelurahan Pulau Pedalaman, serta Makam Ompu Daeng Menambon di Sebukit Rama, Kabupaten Pontianak, Provinsi Kalimantan Barat, Indonesia. Tidak ada pungutan biaya bagi wisatawan yang ingin menyaksikan kebudayaan ini.
Opu Daeng Menambon adalah putra ketiga Opu Daeng Rilekke yang terkenal sebagai pelaut handal dan gemar sekali melakukan perjalanan ke berbagai daerah di Nusantara bersama dengan anak-anaknya. Opu Daeng Rilekke sendiri adalah putra ketiga Sultan La Madusalat dari Kesultanan Luwuk, Bone, Sulawesi Selatan, yang telah menjadi Kesultanan Islam sejak tahun 1398 M. Opu Daeng Menambon beserta keluarganya pindah dari Kerajaan Matan ke Kerajaan Mempawah atas permintaan Panembahan Senggauk, Raja Mempawah waktu itu. Setelah Panembahan Senggauk mangkat, Opu Daeng Menambon naik tahta. Beliau berkuasa di sana sekitar 26 tahun, yakni dari tahun 1740 M sampai beliau wafat pada tahun 1766 M.



BAB III
PENUTUP

A.   Kesimpulan

Budaya dan adat istiadat serta tradisi merupakan suaktu kebiasaan yang dilakukan secara turun temurun salah satunya seperti robo-robo yang sampai sekarang masih dilakukan masyarakat dikalimantan barat yang bertujuan untuk ucapan rasa sukur atas anugrah dan karunia tuhan serta untuk menghormati para leluhur dan untuk menjalin silaturahmi antar sesama.
Perayaan Robo-Robo ini merupakan napak tilas kedatangan Ompu Daeng Menambon dari Kerajaan Matan ke Kerajaan Mempawah yang konon menggunakan 40 perahu Bidar. Perayaan ini menjadi penting karena kedatangan Ompu Daeng Menambon menjadi cikal-bakal masuk dan berkembangnya Islam ke Kota Mempawah. Puncak dari islamisasi pun terjadi saat adanya peralihan di Kerajaan Mempawah yang semula beragama Hindu menjadi kerjaan bercorak Islam. Pada bulan Safar tahun 1148 Hijiriah itulah, masyarakat Mempawah kedatangan rombongan tersebut.

B.  Saran

Alangkah baiknya dalam melakukan adat istiadat atau tradisi kita tidak menyimpang dari ajaran-ajaran agama,seperti sirik dan mubajir dan lainnya yang keluar dari konsep ajaran agama.



DAFTAR PUSTAKA

http://longsani.blogspot.com/2014/07/makalah-robo-robo.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar